Dilema Moral bagi Guru: Menjadi Durna, Abiyasa, atau Bisma
ILUSTRASI Dilema Moral bagi Guru: Menjadi Durna, Abiyasa, atau Bisma.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
SEBUTAN sebagai guru saat ini menjadi dilema moral yang dihadapkan pada pilihan yang tidak mereka inginkan semua. Ibarat pepatah makan buah simalakama, jika dimakan ayah meninggal, jika tidak dimakan ibu meninggal.
Tentu anekdot buah simalakama tersebut tidak ada yang menginginkan terjadi. Namun, jika terpaksa atau dipaksa, seseorang harus memilih salah satu meskipun akibat dari pilihannya bukan yang diharapkan. Tetapi, sebagai akibat dari keterpaksaan.
Status sebagai guru sebenarnya merupakan suatu yang mulia, tetapi sering kali guru dibenturkan kepada suatu pilihan yang kadang mengakibatkan terjadinya tindakan yang meredahkan guru. Kemuliaan guru bisa dilihat dan didengarkan dari lirik lagu Hymne Guru: Pahlawan Tanpa Tanda Jasa.
Dalam lirik lagu tersebut, guru digambarkan sebagai sosok yang terpuji dan sangat dibutuhkan. Guru akan selalu dikenang sebagai sosok yang baik dan mulia. Bahkan, guru juga disebutkan sebagai patriot pahlawan bangsa. Meski begitu, sering kali guru juga disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.
BACA JUGA:Guru Hampir Setara Rasul
BACA JUGA:Guru di Era Multidinamika: Membangun Generasi Emas di Tengah Pusaran Perubahan
Pentingnya seorang guru diakui Hirohito, kaisar Jepang yang mempertanyakan jumlah guru yang tersisa hidup setelah negaranya dihancurluluhkan oleh bom atom yang dijatuhkan Amerika Serikat di Hiroshima dan Nagasaki pada Perang Dunia Kedua.
Hirohito masih optimistis, selama masih ada guru, akan dapat dihasilkan sumber daya manusia yang unggul, yang dapat menghasilkan teknologi yang canggih.
Namun, dalam kenyataannya, saat ini status sebagai guru benar-benar memprihatinkan. Guru sering menjadi korban perundungan dan kriminalisasi oleh orang tua murid dan muridnya sendiri.
Pengabdian dan kerja keras guru sering kali tidak diakui dan dihargai, tetapi malah dianggap sebagai tindakan yang melanggar hak asasi. Kasus perundungan dan kriminalisasi terhadap guru akhir-akhir ini bisa kita saksikan dan lihat di berbagai media.
BACA JUGA:Membumihanguskan Imajinasi Kemuliaan Guru
BACA JUGA:Guru… oh… Guru
Harus kita akui bahwa guru bukanlah dewa atau malaikat yang tidak memiliki kekurangan dan kesalahan. Pun, harus diakui bahwa saat ini belum semua guru memiliki kompetensi seperti yang diharapkan semua pihak.
Guru yang dalam bahasa Jawa dipadankan dengan sosok yang digugu dan ditiru belum dipenuhi semua guru. Artinya, masih ada guru yang belum mencerminkan sosok yang digugu dan ditiru.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: