Rupiah Tembus Rp16.902 per Dolar AS Hari Ini, Mata Uang Asia Kompak Melemah Imbas Lonjakan Harga Minyak
Rupiah melemah ke Rp16.902 per dolar AS pada perdagangan 12 Maret 2026.--pinterest
JAKARTA, HARIAN DISWAY - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada pembukaan perdagangan Kamis, 12 Maret 2026.
Pelemahan tersebut dipicu oleh penguatan dolar AS di pasar global serta meningkatnya permintaan valuta asing di dalam negeri menjelang periode libur Lebaran.
Berdasarkan data Bloomberg, pada Kamis, 12 Maret 2026, pukul 09.47 WIB, rupiah berada di level Rp16.902 per dolar AS di pasar spot exchange.
BACA JUGA:Rupiah Tembus Rp17 Ribu Per Dolar di Tengah Perang Iran–AS, Harga BBM Terancam Naik
BACA JUGA:Kurs Rupiah Hari Ini 7 Maret 2026, Dolar AS Tembus Rp16.900–Rp17.400
Angka tersebut turun 57,9 poin atau sekitar 0,34 persen dibandingkan dengan posisi penutupan perdagangan sebelumnya.
Tekanan di pasar valuta asing juga sejalan dengan pergerakan pasar saham domestik. Pada awal sesi perdagangan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat bergerak di zona hijau, namun tidak berlangsung lama dan kembali melemah hingga masuk ke area merah.
Mata Uang Asia Ikut Melemah
Pelemahan tidak hanya terjadi pada rupiah. Sejumlah mata uang di kawasan Asia juga mengalami tekanan terhadap dolar AS.
Beberapa di antaranya adalah:
- Yen Jepang turun 0,08 persen.
- Dolar Singapura melemah 0,16 persen.
- Dolar Taiwan terkoreksi 0,05 persen.
- Won Korea Selatan turun 0,36 persen.
- Peso Filipina melemah 0,67 persen.
- Rupee India turun 0,26 persen.
- Dolar Hong Kong naik tipis sekitar 0,02 persen.
BACA JUGA:Rupiah Digital: Ketika Kecepatan Uang Menjadi Risiko Baru
Sentimen Global Tekan Rupiah
Sentimen eksternal menjadi faktor utama yang memengaruhi pelemahan rupiah pada perdagangan hari ini. Penguatan indeks dolar AS dipicu oleh rilis data ekonomi Amerika Serikat yang menunjukkan kondisi ekonomi yang cukup solid.
Di dalam negeri, permintaan dolar juga meningkat menjelang musim mudik Lebaran 2026. Kebutuhan valuta asing biasanya naik pada periode tersebut karena meningkatnya aktivitas ekonomi dan perjalanan masyarakat.
Selain itu, kondisi pasar saham domestik yang belum stabil membuat sebagian investor memilih memindahkan dana mereka ke instrumen yang dianggap lebih aman atau safe haven.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: