Dilema Moral bagi Guru: Menjadi Durna, Abiyasa, atau Bisma
ILUSTRASI Dilema Moral bagi Guru: Menjadi Durna, Abiyasa, atau Bisma.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Guru sering dihadapkan pada persoalan status dan peran. Statusnya sebagai pendidik menuntut peran sebagai resi untuk melahirkan kesatria-kesatria yang mempu membela dan menegakkan kebenaran dan keadilan.
Dalam konteks bernegara, mereka mampu melahirkan sumber daya pembangunan dan calon-calon pemimpin bangsa yang memiliki kecerdasan intelektual, sosial, dan moral. Namun, tugas itu juga harus disertai dengan kedisiplinan dan keteguhan hati serta niat baik dari para murid yang memang benar ingin menjadi kesatria.
Jika murid itu hanya ingin meraih kekuasaan atau kenikmatan dunia, meskipun gurunya seorang resi, hasilnya juga tidak akan baik.
Sebagai contoh dan analogi dalam cerita Mahabharata, ada Resi Durna yang memiliki murid dari Pandawa dan Kurawa. Dua kelompok murid itu dididik guru yang sama, tetapi hasilnya berbeda. Sebab, motivasi mereka berbeda.
Pandawa menjadi kesatria yang menempatkan kemartabatannya bukan pada materi dan jabatan, melainkan pada kecerdasan intelektual, sosial, dan moral.
Sebaliknya, Kurawa menempatkan kemartabatannya kepada materi dan kekuasaan, yang kemudian menghasilkan kesewenang-wenangan dan ketidakadilan.
Durna dalam mendidik juga dihadapkan pada dilema, akan berpihak ke mana? Dalam cerita tersebut, Durna ternyata terjebak pada pilihan dunia, yang memihak kepada Kurawa. Ia lebih memilih membela Kurawa yang bisa memberikan fasilitas materi dan kedudukan (jabatan).
Dari cerita Mahabharata tersebut, tampak bahwa materi atau kehidupan duniawi lebih kuat pengaruhnya daripada kehidupan akhirat.
Tidak semua resi (guru) mampu bertahan dengan memilih jalan rahoni, seperti Resi Abiyasa atau Resi Bisma yang dalam cerita Mahabharata mampu meninggalkan kenikmatan dunia. Mereka rela melepaskan jabatannya sebagai raja demi menjaga martabat umat manusia.
Meski demikian, antara Abiyasa dan Bisma juga ada perbedaan. Abiyasa lebih memilih mengabaikan dunia. Ia benar-benar tidak ingin tahu dan terlibat pada urusan dunia. Oleh karena itu, Abiyasa memilih sebagai pertapa yang hanya menunggu dan memberikan ilmunya kepada siapa yang mau mencari dan ingin menjadi kesatria.
Sementara itu, Bisma masih tetap berperan aktif sebagai guru dalam menegakkan kebenaran dan keadilan. Oleh karena itu, ia masih aktif dalam tugasnya sebagai guru yang adil dan jujur sekaligus sebagai pahlawan untuk menegakkan kebenaran dan keadilan.
Ia masih ikut dalam tata pemerintahan sebagai penasihat. Bahkan, masih ikut berperang dalam Baratayudha. Meski berada di pihak Kurawa, Bisma tidak membela Kurawa. Ia berperang demi menegakkan kebenaran dan keadilan.
Guru-guru saat ini sebenarnya juga berada pada dilema seperti dalam cerita Mahabharata tersebut. Mereka dihadapkan kepada dilema moral, antara menjalankan tugas mulia sebagai pendidik atau harus memilih jalan sunyi membiarkan dan tidak peduli terhadap apa yang terjadi.
Dalam arti, mereka hanya mejalankan tugas mengajar, bukan mendidik. Atau, masih tetap menjalankan tugas mulianya mendidik anak bangsa meski penuh dengan risiko, termasuk kemiskinan, perundungan, bahkan kriminalisasi.
Dari cerita tersebut, sebenarnya guru bisa dibebaskan dari dilema, yaitu dengan memenuhi kebutuhan duniawi secara wajar. Dengan gaji yang wajar, pengabdian dan keikhlasan guru tidak ada tereduksi sehingga guru bisa menjalankan tugas tanpa harus memikirkan materi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: