Cara Menjawab Pertanyaan Jebakan tentang Skill AI Di Depan HRD
Mengaku jago AI tanpa contoh? Hati-hati. Di ruang wawancara 2026, itu justru jadi jebakan.--pinterest
Jebakan berikutnya datang dari sikap terlalu defensif. Seperti mengaku jarang memakai AI karena takut melanggar etika. Itu bisa dibaca HRD sebagai orang yang kurang adaptif terhadap perkembangan zaman.

Pekerjaan entri data semakin terotomatisasi, membuat penguasaan analisis dan pengelolaan sistem menjadi kunci bertahan di era AI.-freepik-
Padahal, perusahaan mencari karyawan yang melek teknologi sekaligus kritis. Menggunakan AI sebagai alat bantu, bukan pengganti, serta memahami etika, keamanan data, dan orisinalitas justru menjadi nilai lebih.
Kesalahan lain adalah menganggap AI mampu menggantikan semua pekerjaan manusia. Pernyataan bahwa AI membuat kerja lebih cepat dan mudah bisa terdengar positif. Tetapi juga menandakan kurangnya refleksi.
BACA JUGA:Tren Pekerjaan Freelance Paling Dinikmati 2025: Bebas Atur Waktu dan Pilih Proyek
BACA JUGA:10 Pekerjaan yang Terancam Hilang Karena Teknologi AI, Wajib Tahu!
HRD cenderung lebih menghargai kandidat yang paham. Bahwa AI tetap membutuhkan konteks manusia, intuisi, dan kemampuan pengambilan keputusan. Di situlah peran manusia tetap relevan.
Pada 2026, skill AI yang dicari HRD bukan soal banyaknya tools yang dikuasai. Yang lebih penting adalah ketepatan penggunaan, kemampuan memverifikasi hasil, serta kesadaran terhadap etika dan keamanan data.
Pada akhirnya, pertanyaan tentang skill AI bukan untuk menjatuhkan pelamar. Pertanyaan itu menjadi cara HRD menyaring kandidat yang adaptif, kritis, dan tidak bergantung secara membabi buta pada teknologi. AI hanyalah alat. Sementara manusia tetap menjadi pengendali utamanya. (*)
*) Mahasiswa magang dari Prodi Akidah dan Filsafat Islam, UINSA.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: