Suami Penganggur Bunuh Istri di Bengkulu: Alibi Palsunya, Begini…
ILUSTRASI Suami Penganggur Bunuh Istri di Bengkulu: Alibi Palsunya, Begini…-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Dietz: ”Kelompok ini pernah melakukan kekerasan sebelumnya dan meningkat hingga berujung pada akhir yang tragis. Saya tidak berbicara tentang hal yang halus di sini.”
Amarah pelaku juga terjadi di luar rumah, yang mengakibatkan catatan kriminal dan perilaku antisosial lainnya. Beberapa dari pria itu, tambahnya, adalah psikopat sejati.
Kedua, takut ditinggalkan. Pelaku takut ditinggalkan atau berpisah dengan pasangannya.
Itu biasanya terjadi setelah istrinya mengancam atau mencoba pergi. Suatu tindakan yang bisa sangat berbahaya bagi wanita yang merasa pasangannya mengontrol dan melakukan kekerasan.
Dietz: ”Pria pembunuh pasangannya karena takut ditinggalkan punya kepribadian sangat tidak stabil dan emosional, dikenal sebagai tipe borderline.”
Ketiga, kecemburuan seksual. Model itu sudah banyak orang tahu. Sebagian orang menyebutnya posesif seksual terhadap pasangannya sebagai objek. Pelaku adalah pencemburu buta.
Keempat, pelaku membunuh pasangan, lalu ingin bunuh diri. Si pembunuh mungkin kemudian bunuh diri atau tidak. Beberapa dari mereka mengurungkan niat bunuh diri setelah membunuh.
Di kasus Bengkulu, Oga diminta secara halus oleh mertua agar pisah rumah dengan Aulia. Oga pun menurutinya. Kasusnya cocok dengan teori Dietz nomor dua: takut ditinggalkan atau berpisah. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: