Fenomena Mendadak Baik Saat Ramadan, Tanda Spiritual dan Sosial Bekerja Beriringan

Fenomena Mendadak Baik Saat Ramadan, Tanda Spiritual dan Sosial Bekerja Beriringan

Kenapa setiap Ramadan orang terasa lebih baik? Ada penjelasan psikologis dan sosialnya.--pinterest


Bukan cuma lapar dan haus, Ramadan juga melatih kontrol diri dan empati.--pinterest

Namun, pertanyaan besarnya, mengapa perubahan itu sering kali hanya terasa selama Ramadan? Para pengamat sosial menyebut, suasana kolektif dan atmosfer religius yang kuat menjadi faktor utama.

Ketika Ramadan berakhir, ritme sosial kembali normal. Sehingga dorongan tersebut perlahan melemah.

Meski begitu, Ramadan tetap menjadi momen penting untuk membangun kebiasaan baru. Jika konsisten dijaga, perubahan kecil selama satu bulan bisa berdampak panjang setelahnya.

BACA JUGA:Kemenag Jatim Gelar Rukyatul Hilal Ramadan 1447 H di 21 Daerah, Hasilnya Dilaporkan ke Sidang Isbat

BACA JUGA:5 Olahan Pisang Menu Buka Puasa Ramadan 2026, Praktis dan Mengenyangkan

Jadi, ketika banyak orang terlihat “mendadak lebih baik” saat Ramadan, itu bukan hal aneh. Itulah kekuatan momentum spiritual dan sosial yang bekerja bersamaan.

Ramadan bukan sekadar rutinitas tahunan. Ia adalah ruang latihan bagi seseorang. Dan diharapkan, kebaikan tidak berhenti di bulan suci saja. (*)

*) Mahasiswa magang dari Prodi Akidah dan Filsafat Islam, UINSA.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: