Cheng Yu Pilihan Psikolog Klinis-Duta Baca Jawa Timur Heraldha Savira: Neng Jin Qu Pi

Cheng Yu Pilihan Psikolog Klinis-Duta Baca Jawa Timur Heraldha Savira: Neng Jin Qu Pi

HERALDHA SAVIRA, duta baca Jawa Timur, berprinsip neng jin qu pi. Mau berempati dan memosisikan diri di posisi orang lain.--Instagram/Heraldha Savira

HARIAN DISWAY - Menurut Heraldha Savira, "Kebajikan yang lahir dari hati nurani dan nilai kemanusiaan adalah hukum tertinggi."

Makanya, psikolog klinis yang juga duta baca Jawa Timur itu menegaskan, di atas segala aturan, norma, atau sistem yang dibuat manusia, kita mesti terpanggil untuk berbuat baik, menghormati sesama, dan menjaga martabat kehidupan.

Prinsip itulah yang Sasha, demikian Heraldha biasa disapa, jadikan kompas ketika dihadapkan pada pilihan rumit. "Bahwa keputusan terbaik ialah yang paling memuliakan manusia dan menumbuhkan kebaikan bersama," katanyi. 

Sebab, hukum bisa dan boleh berubah seiring masa. “Tapi kemanusiaan dan kebajikan tetaplah fondasi yang seharusnya selalu kita pegang,” tegasnyi.

BACA JUGA:Cheng Yu Pilihan Bupati Lumajang Indah Amperawati: Min Wei Bang Ben

BACA JUGA:Cheng Yu Pilihan Ketua Yayasan Cahaya Lestari Surabaya Ming Soedarmono: Er Ren Tong Xin, Qi Li Duan Jin

Dalam bermasyarakat, berbangsa, maupun bernegara, ribuan warsa yang lampau filsuf besar Konfusius sudah berpesan agar kita memiliki sifat "仁" (rén): welas asih. 

Saat ditanya oleh muridnya terkait apa yang ia maksud dengan "welas asih", Konfusius menjawab, "Yang welas asih, akan mencintai manusia" (仁者爱人). 

Di lain kesempatan, Konfusius lebih lanjut menerangkan salah satu tanda seseorang mempunyai jiwa welas asih. Yaitu, "Tatkala kita ingin sukses, juga menyukseskan orang lain" (己欲立而立人,己欲达而达人). 

Dan, yang tak kalah penting, "Tidak melakukan kepada orang lain, sesuatu yang kita tidak kehendaki bila orang lain melakukannya kepada kita" (己所不欲,勿施于人). 

BACA JUGA:Cheng Yu Pilihan Bupati Nganjuk Marhaen Djumadi: Wu Wang Zai Ju

BACA JUGA:Cheng Yu Pilihan Dokter Internship Lulusan Tiongkok di RSUD Ngudi Waluyo Wlingi Junprihansel: Jin Xin Jie Li

Ya, sama persis dengan para leluhur kita yang mengajarkan "tepo seliro" atau tenggang rasa.

Dari situ, tak ada alasan bagi kita untuk tidak "能近取譬" (néng jìn qǔ pì): mau berempati dan memosisikan diri di posisi orang lain. (*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: