Indonesia Ikut Kecam Pernyataan Dubes AS Terkait Klaim Israel atas Wilayah Timur Tengah

Indonesia Ikut Kecam Pernyataan Dubes AS Terkait Klaim Israel atas Wilayah Timur Tengah

Pernyataan bersama negara-negara muslim, termasuk Indonesia pada pernyataan Dubes AS untuk Israel Mike Huckabee tentang hak Israel untuk caplok wilayah dari Nil hingga Efrat-Diolah-

HARIAN DISWAY – Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia mengecam keras pernyataan Duta Besar Amerika Serikat untuk Israel, Mike Huckabee, yang menyebut pendudukan Israel di Tepi Barat sebagai langkah yang dapat diterima.

Kecaman tersebut disampaikan dalam pernyataan bersama yang dirilis pada Minggu, bersama sejumlah negara seperti Mesir, Yordania, Uni Emirat Arab, Pakistan, Turki, Arab Saudi, Qatar, Kuwait, Oman, Bahrain, Lebanon, Suriah, dan Palestina.

Pernyataan itu juga didukung sekretariat Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), Liga Negara-Negara Arab (LNA), serta Dewan Kerja Sama Teluk (GCC).

Dalam pernyataan bersama, negara-negara tersebut menyampaikan kecaman keras dan keprihatinan mendalam atas pernyataan Dubes AS yang mengindikasikan tindakan Israel mengambil alih wilayah milik negara-negara Arab, termasuk Tepi Barat yang diduduki, sebagai sesuatu yang dapat diterima.

BACA JUGA:Klaim Israel Boleh Caplok Wilayah Mulai Nil hingga Eufrat, Dubes AS Tuai Kecaman

BACA JUGA:Aktivis GSF Akui Dianiaya Israel, Kemenlu Bantah Tuduhan

Pernyataan kontroversial itu disampaikan Mike Huckabee dalam wawancara di podcast milik komentator sayap kanan AS, Tucker Carlson, yang dirilis Jumat, 20 Februari 2026 lalu.

Dalam wawancara tersebut, Huckabee mengisyaratkan bahwa Israel memiliki hak alkitabiah atas wilayah luas di Timur Tengah, mulai dari Sungai Nil di Mesir hingga Sungai Efrat di Suriah dan Irak.

“Akan baik-baik saja jika mereka (Israel,Red) mengambil semuanya (wilayah mulai dari Sungai Nil di selatan hingga Efrat di utara,Red),” ujar Huckabee dalam wawancara tersebut.

Pernyataan itu merujuk pada Kitab Kejadian 15:18 tentang wilayah yang dijanjikan tuhan kepada keturunan Abraham. Namun dalam konteks geopolitik modern, penafsiran tersebut dinilai problematik karena menyentuh wilayah kedaulatan sejumlah negara berdaulat di Timur Tengah.

BACA JUGA:Tudingan Pembantaian Massal oleh Israel di Gaza, Penjara Penuh Siksaan mental

BACA JUGA:Indonesia Bersuara di Pertemuan DK PBB, Pendudukan Israel di Tepi Barat Hambat Perdamaian

Secara geografis, rentang wilayah dari Sungai Nil hingga Sungai Efrat mencakup seluruh Palestina dan Lebanon, sebagian besar Suriah dan Yordania, serta meliputi sebagian wilayah Mesir, Irak, Arab Saudi, hingga Turki.

Karena itu, dukungan terhadap klaim semacam ini dipandang sebagai ancaman serius terhadap stabilitas kawasan dan kedaulatan nasional negara-negara yang berada di wilayah tersebut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: