Mainan Koleksi Berbasis AI Kian Laris di Tiongkok: Mainan Masa Depan Bikin Bahagia dan Interaktif

Mainan Koleksi Berbasis AI Kian Laris di Tiongkok: Mainan Masa Depan Bikin Bahagia dan Interaktif

INTERAKSI BOCAH Tiongkok dengan robot anjing pintar dalam pameran mainan berbasis AI di Nanjing, Provinsi Jiangsu, Tiongkok.-Rita Qian-AFP-

Industri mainan koleksi Tiongkok terus melaju. Nilainya melonjak. Pemain baru bermunculan. Media sosial menjadi etalase utama. Dan salah satu yang membangkitkan euforia itu adalah akal imitasi alias artificial intelligence (AI).

“DULU, mainan koleksi hanya mengandalkan estetika dan kelangkaan agar orang mau membeli, membagikan, dan mengoleksinya,” ujar Jing Linyan, salah satu pendiri produsen mainan koleksi berbasis AI asal Tiongkok, MarveLab.

Tapi, era itu sudah berlalu. “Kami percaya mainan koleksi di masa depan akan berbeda. Mereka bukan hanya membuat Anda bahagia dalam satu momen. Yang lebih penting, mereka akan membuat Anda terus terlibat, berinteraksi. Dan jangka waktu yang lebih panjang, ada banyak kejutan yang menanti,’’ kata Jing seperti dikutip Daily Mail.

Sejumlah pengamat mengatakan bahwa 2025 adalah tahun emas mainan tren (trendy toys). Merek seperti Pop Mart mendapatkan eksposur besar di berbagai platform media sosial. Fenomena “blind box”, figur karakter dengan ekspresi imut, dan antrean pembelian edisi terbatas menjadi bagian dari budaya konsumsi generasi muda perkotaan.

BACA JUGA:Permainan Kartu Bapak dan Kurir Cilik Pererat Bonding Anak dengan Ayah

BACA JUGA:7 Ide Permainan Sensori Anak Usia 1-3 Tahun untuk Melatih Motorik Halus Sejak Dini

Angkanya memang impresif. Data AskCI Consulting menunjukkan pasar mainan koleksi Tiongkok melonjak dari 22,9 miliar yuan (sekitar Rp55 triliun) pada 2020 menjadi sekitar 76,3 miliar yuan (sekitar Rp185 triliun) pada 2024.

Artinya, laju pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) mencapai 35,11 persen.

Lembaga riset Frost & Sullivan bahkan memperkirakan nilai pasar itu menembus 92,6 miliar yuan pada 2025. Itu sekitar Rp235 miliar.

Pertumbuhan itu membuktikan bahwa mainan sudah jadi industri arus utama. Nah, problem pun muncul.


JAJARAN MAINAN produksi Weilan dipamerkan di Nanjin, Provinsi Jiangsu, Tiongkok.-Rita Qian-AFP-

“Pengalaman yang ditawarkan mainan koleksi tradisional biasanya mencapai puncaknya di awal. Yaitu saat konsumen membuka kemasan, memotret, lalu membagikannya secara daring. Setelah itu, mainan tersebut menjadi pajangan statis,’’ ujarnya.

Bagi sebagian kolektor, itu sudah cukup. Figur yang rapi di etalase adalah kepuasan tersendiri. “Figur atau aksesori statis sepenuhnya sah. Dan banyak orang menyukainya. Tetapi ketika mainan koleksi makin melimpah, ekspektasi pengguna bergeser. Dari melihat menjadi bermain. Dari memiliki menjadi berinteraksi,’’ kata Jing.

Dari situlah tampak bahwa mainan lama memang ada batasnya. Jing menyebut, mainan statis itu sudah mencapai plafonnya. Kini, muncul yang baru: mainan berbasis kecerdasan buatan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: