Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Airlangga di Aceh (4): Membangun Mindset Kewirausahaan
ILUSTRASI Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Airlangga di Aceh (4): Membangun Mindset Kewirausahaan dan Literasi Keuangan.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Usaha-usaha berbasis makanan, misalnya, sangat bergantung pada ketersediaan bahan segar dan akses distribusi harian sehingga mereka menjadi kelompok yang paling cepat merasakan dampak.
Kondisi itu sejalan dengan temuan dalam studi ketahanan komunitas yang menekankan bahwa pelaku usaha mikro merupakan kelompok yang paling rentan sekaligus paling adaptif dalam menghadapi bencana. Ketergantungan pada modal harian dan jaringan lokal membuat mereka cepat terdampak, tetapi juga mendorong munculnya strategi bertahan berbasis solidaritas dan relasi sosial (Norris et al., 2008).
Selain itu, penelitian mengenai social capital menunjukkan bahwa keberadaan jejaring sosial dan kepercayaan antarwarga menjadi faktor kunci dalam mempercepat pemulihan ekonomi pascabencana (Aldrich & Meyer, 2015).
Dengan demikian, realitas yang ditemui di Kabupaten Pidie Jaya tidak hanya mencerminkan kerentanan struktural pelaku usaha mikro, tetapi juga memperlihatkan potensi ketahanan sosial yang dapat diperkuat melalui intervensi yang tepat.
KOMPREHENSIF
Sebagai bagian dari upaya pemberdayaan pelaku usaha mikro pascabencana, kegiatan pengabdian kepada masyarakat Universitas Airlangga di Kabupaten Pidie Jaya tidak hanya berfokus pada pemulihan ekonomi secara material, tetapi juga menyentuh dimensi psikologis dan kapasitas individu para pelaku usaha.
Hal itu diwujudkan melalui rangkaian sesi pelatihan tematik yang dirancang secara komprehensif dan berkelanjutan.
Salah satu sesi pendampingan berfokus pada Rebuilding Mindset Kewirausahaan yang dibawakan Rafi Aufa Mawardi. Dalam sesi itu, peserta didorong untuk melihat kembali usaha mereka bukan sekadar sebagai sumber penghasilan, melainkan sebagai ruang untuk bertahan dan beradaptasi di tengah ketidakpastian.
Penekanan pada growth mindset ditekankan pada pola pikir wirausaha yang resilien, inovatif, dan terbuka untuk bertumbuh. Pascabencana, kemampuan untuk membaca peluang baru, dan melakukan penyesuaian strategi menjadi kunci agar usaha mikro tidak hanya pulih, tetapi juga bangkit dan berkembang.
Sesi lain mengangkat tema Literasi Keuangan Rumah Tangga & Usaha Mikro yang disampaikan Yanuar Nugroho, dosen Fakultas Vokasi, Universitas Airlangga.
Materi yang disampaikan Yanuar memberikan pemahaman praktis mengenai pengelolaan keuangan sederhana, mulai pencatatan pemasukan dan pengeluaran, pemisahan keuangan pribadi dan usaha, hingga perencanaan keuangan jangka pendek.
Dalam konteks pascabencana, literasi keuangan menjadi fondasi penting agar pelaku usha mikro mampu mengelola sumber daya yang terbatas secara lebih efektif dan menghindari kerentanan ekonomi yang berulang.
Kunci dalam membangun kembali usaha mikro adalah para pelaku harus memahami tata cara pengelolaan keuangan, terutama penghitungan laba-rugi dan menetapkan arah pengembangan bisnis yang prospektif.
Pemberdayaan pelaku usaha mikro yang menjadi korban bencana tidak dapat dilakukan secara parsial. Diperlukan pendekatan holistik yang mencakup pemulihan mental, penguatan pola pikir, serta peningkatan kapasitas teknis.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: