Kontribusi Generasi Terdidik: Antara Utang Moral dan Sensitivitas Publik di Masa Kini

Kontribusi Generasi Terdidik: Antara Utang Moral dan Sensitivitas Publik di Masa Kini

ILUSTRASI Kontribusi Generasi Terdidik: Antara Utang Moral dan Sensitivitas Publik di Masa Kini.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Polemik ini mengingatkan bahwa relasi antara negara dan generasi terdidik dibangun di atas dua dasar utama: kontrak formal dan kepercayaan sosial. Kontrak dapat diselesaikan melalui prosedur administratif. Namun, kepercayaan hanya dapat dijaga melalui dialog, keterbukaan, dan kematangan publik.

”Utang moral” seharusnya dipahami sebagai kesadaran etis untuk berkontribusi, bukan sebagai instrumen tekanan tanpa batas. Sensitivitas publik terhadap simbol nasionalisme adalah hal yang wajar. Namun, sensitivitas tersebut perlu diimbangi dengan rasionalitas dan penghormatan terhadap hak individu.

Jika relasi itu dikelola secara proporsional, investasi negara melalui LPDP akan tetap menjadi sumber kebanggaan kolektif. Generasi terdidik dapat berkontribusi secara kreatif tanpa dibayangi kecurigaan berlebihan. Pun, publik dapat menjaga semangat nasionalisme tanpa terjebak dalam penghakiman moral yang simplistis. (*)

*) Sendy Krisna Puspitasari, mahasiswa magister kajian sastra dan budaya, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: