Pembunuhan Brutal di Dusun Seriwang, Lampung: Akibat Dendam Kesumat
ILUSTRASI Pembunuhan Brutal di Dusun Seriwang, Lampung: Akibat Dendam Kesumat.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Pada saat itu, hal tersebut tentu terasa melegakan bagi pelaku.
Apa yang memotivasi kita untuk membalas dendam? Para peneliti secara bertahap mendapatkan beberapa jawaban.
Balas dendam adalah pemicu emosional yang kuat yang menggerakkan orang untuk bertindak.
Psikolog evolusioner Michael McCullough dari Miami University, Oxford, Ohio, Amerika Serikat (AS), mengatakan, ”ini adalah pengalaman yang sangat umum dalam kehidupan manusia. Orang-orang dari setiap masyarakat memahami gagasan untuk marah dan ingin menyakiti seseorang yang telah menyakitinya.”
McCullough telah menghabiskan lebih dari satu dekade untuk mempelajari balas dendam dan pengampunan.
Menurut BBC, dendam mendorong kejahatan hingga 20 persen pembunuhan dan 60 persen penembakan di sekolah di AS. Kemenangan Donald Trump menjadi presiden AS, misalnya, terjadi sebagai hasil dari ”balas dendam kaum kulit putih kelas pekerja… yang merasa ditinggalkan oleh ekonomi yang mengalami globalisasi pesat.”
Meski topik agresi telah banyak dipelajari, balas dendam kurang dipahami para ahli. Balas dendam tidak gampang dipisahkan dari perilaku kekerasan umumnya sehingga menjadikannya topik yang sulit untuk dipelajari.
Psikolog David Chester dari Virginia Commonwealth University awalnya mempelajari agresi, tetapi dengan cepat menyadari bahwa sering kali ada banyak hal yang terjadi sebelum interaksi kekerasan. Ia menyebut emosi yang terlibat sebagai ”perantara psikologis” atau pikiran dan perasaan yang muncul di antara saat provokasi dan hasil agresif.
Chester: ”Saya penasaran, bagaimana Anda menerima penghinaan dan bagaimana Anda beralih dari itu ke respons agresif.”
Kuncinya, menurutnya, terletak pada keinginan untuk membalas. ”Jadi, karena berusaha memahami agresi, saya mulai mempelajari balas dendam.”
Seseorang yang diprovokasi berperilaku agresif justru karena hal itu dapat memberikan kepuasan hedonis pelaku pada saat dan sesudah tindakan agresi.
Chester Bersama rekannya, psikolog Nathan DeWall dari University of Kentucky, Lexington, Kentucky, AS, menemukan bahwa seseorang yang dihina atau ditolak secara sosial merasakan sakit emosional. Area di otak yang terkait dengan rasa sakit paling aktif pada peserta yang kemudian bereaksi dengan respons agresif setelah merasa ditolak.
Chester: ”Ini memanfaatkan kecenderungan kuno yang berevolusi untuk menanggapi ancaman dan bahaya dengan pembalasan agresif.”
Dalam riset lanjutan, ia menemukan bahwa rasa sakit emosional terkait erat dengan kesenangan. Artinya, meski penolakan atau penghinaan awalnya menyakitkan, itu dapat dengan cepat ditutupi oleh kesenangan ketika dihadapkan pada kesempatan untuk membalas dendam. Bahkan, mengaktifkan sirkuit penghargaan otak yang dikenal nucleus accumbens.
Orang yang diprovokasi berperilaku agresif justru karena hal itu dapat ”memberikan imbalan hedonis bagi pelaku.” Demikian temuan Chester.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: