Trump Plinplan, Tujuan Serangan ke Iran Tidak Jelas dan Inkonsisten

Trump Plinplan, Tujuan Serangan ke Iran Tidak Jelas dan Inkonsisten

Presiden AS Donald Trump saat memberikan keterangan di Gedung Putih, Washington D.C. -The White House-

Sejumlah analis menilai simpang siur pernyataan tersebut menunjukkan kebijakan Gedung Putih masih berubah-ubah.

BACA JUGA:Trump Ajak Rakyat Iran Bangkit Gulingkan Rezim Republik Islam: Ini Mungkin Satu-Satunya Kesempatan!

BACA JUGA:Trump Targetkan Industri Rudal dan Angkatan Laut Iran dalam 'Operasi Militer Besar'

"Pemerintah dan presiden sama sekali bukan model kejelasan dalam perang ini. Sepertinya mereka membuatnya sambil jalan. Kebijakan saat ini lebih terlihat seperti inkoherensi," ujar Justin Logan dari Cato Institute.

Gedung Putih sendiri menyatakan sejak awal Trump berupaya menghentikan program nuklir dan rudal balistik Iran melalui jalur diplomasi. Serangan militer disebut dilakukan setelah Iran tidak memenuhi tuntutan tersebut.

IAEA: Belum Ada Bukti Iran Bangun Bom Nuklir

Di tengah tudingan Amerika Serikat dan Israel bahwa Iran tengah mengembangkan senjata nuklir, International Atomic Energy Agency (IAEA) justru menyatakan belum menemukan bukti bahwa Teheran sedang membuat bom nuklir.

Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi menegaskan laporan lembaganya selama ini konsisten pada kesimpulan tersebut.

“Saya telah sangat jelas dan konsisten dalam laporan saya tentang program nuklir Iran: meskipun belum ada bukti bahwa Iran sedang membangun bom nuklir, persediaan uranium yang diperkaya mendekati tingkat senjata nuklir dalam jumlah besar dan penolakan untuk memberikan akses penuh kepada inspektur saya merupakan penyebab kekhawatiran serius,” ujarnya.

BACA JUGA:Kematian Ayatollah Ali Khamenei Justru Bikin Legitimasi Rezim Menguat, Iran Masuk Fase Perang Atrisi

BACA JUGA:Ayatollah Alireza Arafi, Tokoh Kunci Transisi Kekuasaan Iran usai Wafatnya Khamenei

Grossi menambahkan bahwa stok uranium Iran yang diperkaya hingga mendekati tingkat senjata menjadi perhatian serius komunitas internasional. Selain itu, keterbatasan akses bagi inspektur IAEA juga membuat proses verifikasi belum sepenuhnya tuntas.

“Karena alasan ini, laporan saya sebelumnya menunjukkan bahwa kecuali dan sampai Iran membantu IAEA dalam menyelesaikan masalah pengamanan yang belum terselesaikan, Badan tersebut tidak akan dapat memberikan jaminan bahwa program nuklir Iran sepenuhnya bersifat damai,” tambahnya.

Risiko Politik di Iran

Durasi kehadiran militer Amerika di kawasan sangat bergantung pada tujuan akhir operasi tersebut. Jika targetnya hanya menghancurkan fasilitas nuklir dan pabrik rudal, penarikan pasukan bisa dilakukan lebih cepat.

Namun, jika tujuannya memfasilitasi pergantian kekuasaan di Iran, misi tersebut diperkirakan akan jauh lebih panjang dan kompleks.

Mantan negosiator Timur Tengah AS Dennis Ross menilai Trump bisa saja mengklaim kemenangan politik tanpa harus menunggu perubahan rezim.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: