BMKG: Musim Kemarau Tahun Ini Datang Lebih Cepat, Berlangsung Lebih Lama

BMKG: Musim Kemarau Tahun Ini Datang Lebih Cepat, Berlangsung Lebih Lama

BMKG memprediksikan musim kemarau di Indonesia akan datang lebih cepat dengan durasi lebih panjang tahun ini -AI Generated-

HARIAN DISWAY - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi awal musim kemarau di Indonesia akan dimulai pada Mei 2026 dan mencapai puncaknya pada bulan Agustus mendatang. Kemarau tahun ini datang lebih cepat dengan durasi lebih panjang. 

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, merinci bahwa sebanyak 184 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 26,3% wilayah akan memasuki musim kemarau pada Mei 2026. Sebanyak 163 ZOM (23,3%) lainnya menyusul pada bulan Juni 2026. Berdasarkan data tersebut, Ardhasena menegaskan bahwa awal kemarau di 325 ZOM (46,5%) diprediksi maju atau terjadi lebih cepat dari biasanya. Sementara itu, 173 ZOM (24,7%) diprediksi sama dengan rata-rata, dan 72 ZOM (10,3%) diprediksi mundur.

“Wilayah yang diprediksi mengalami awal kemarau lebih awal meliputi sebagian besar Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian selatan dan timur, sebagian besar Sulawesi, Maluku, hingga sebagian wilayah Papua,” ujar Ardhasena.

Berdasarkan hasil analisis BMKG, puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi terjadi pada bulan Agustus 2026, yang mencakup 429 ZOM atau sekitar 61,4% wilayah Indonesia. Wilayah lain akan mengalami puncak kemarau pada Juli (12,6%) dan September (14,3%).

BACA JUGA:Emil Gelar Apel Peralatan Kesiapsiagaan Bencana Hadapi Musim Kemarau

BACA JUGA:Ribuan Desa di Jatim Berpotensi Alami Kekeringan, BPBD Imbau Warga Hemat Air

Pada Juli, wilayah yang memasuki puncak kemarau meliputi sebagian Sumatra, Kalimantan bagian tengah dan utara, serta merambah ke sebagian kecil Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, hingga wilayah barat Pulau Papua. Memasuki bulan Agustus, cakupan wilayah yang mengalami puncak kemarau meluas secara signifikan.

Kondisi kering ini akan mendominasi wilayah Sumatra bagian tengah dan selatan, Jawa Tengah hingga Jawa Timur, sebagian besar Kalimantan dan Sulawesi, seluruh wilayah Bali dan Nusa Tenggara, serta sebagian Maluku dan Pulau Papua. Sedangkan pada periode September, puncak kemarau masih dialami di sebagian Lampung, sebagian kecil Jawa, sebagian besar NTT, Sulawesi bagian utara dan timur, sebagian besar Maluku Utara, serta sebagian kecil Pulau Papua.

Lebih lanjut, BMKG memproyeksikan sifat musim kemarau 2026 secara umum akan bersifat Bawah Normal atau lebih kering dari biasanya di 451 ZOM (64,5%) dan Normal di 245 ZOM (35,1%). Sebaliknya, hanya terdapat 3 ZOM (0,4%) di wilayah Gorontalo dan Sulawesi Tenggara yang berpotensi mengalami kemarau Atas Normal atau lebih basah.

"Dengan kondisi ini, durasi musim kemarau di 57,2% wilayah Indonesia diprediksi lebih panjang dari normalnya," tambah Faisal.

BACA JUGA:BMKG Sebut Musim Kemarau Belum Dominan Meskipun Sudah Masuk Pertengahan Juli

BACA JUGA:BMKG Deteksi 3 Bibit Siklon Tropis: Cek Daftar Wilayah Potensi Hujan Lebat dan Angin Kencang

Menanggapi risiko yang mungkin terjadi, Faisal menekankan pentingnya langkah antisipasi bagi kementerian, lembaga, pemerintah daerah, hingga masyarakat. Di sektor pangan, petani perlu menyesuaikan jadwal tanam dengan memilih varietas yang lebih hemat air dan tahan kekeringan.

“Langkah ini harus dibarengi dengan penguatan sektor sumber daya air melalui revitalisasi waduk dan perbaikan jaringan distribusi demi menjamin ketersediaan air bersih bagi kebutuhan domestik maupun operasional PLTA di sektor energi,” ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: