THR Turun, Harga Naik
ILUSTRASI THR Turun, Harga Naik.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Rumah tangga tidak merasakan inflasi sebagai angka agregat dalam laporan statistik, tetapi sebagai kenaikan harga pada barang yang benar-benar mereka beli seperti beras, minyak goreng, telur, cabai, daging ayam, hingga ongkos transportasi.
Bagi rumah tangga berpendapatan menengah ke bawah, belanja pangan bahkan bisa menyerap hampir separuh pengeluaran bulanan. Karena itu, kenaikan kecil pada harga kebutuhan pokok dapat langsung terasa besar dalam kehidupan sehari-hari.
Jika harga cabai naik, misalnya, efeknya bisa terasa sampai ke dapur dan ke percakapan meja makan.
Persepsi ekonomi masyarakat sebenarnya sangat rasional. Mereka menghitung inflasi berdasar ”keranjang belanja” pribadi. Jika harga sebagian besar isi keranjang itu naik, bagi mereka, inflasi memang terasa tinggi meski angka resmi terlihat moderat.
Di sinilah muncul paradoks bahwa inflasi statistik bisa stabil, tetapi inflasi yang dirasakan masyarakat terasa lebih tinggi. Akibatnya, nilai riil THR yang diterima pekerja ikut tergerus.
THR yang dahulu terasa cukup untuk berbagai kebutuhan Lebaran kini sering kali hanya mampu menambal sebagian pengeluaran. Sisanya harus disiasati dengan berbagai strategi rumah tangga yang kreatif. Mulai mengurangi belanja hingga menyederhanakan rencana mudik.
DUNIA KERJA
Di sisi lain, dunia kerja juga sedang menghadapi tantangan yang tidak ringan. Ketidakpastian ekonomi global, tekanan biaya produksi, dan perlambatan di beberapa sektor membuat banyak perusahaan memilih bersikap lebih berhati-hati.
Ekspansi ditahan, efisiensi dilakukan, bahkan di sejumlah tempat terjadi pengurangan tenaga kerja. Dalam kondisi seperti itu, THR yang seharusnya menjadi kabar gembira menjelang Lebaran kadang terasa seperti hadiah yang datang bersamaan dengan daftar tagihan.
Padahal, secara ekonomi, THR sebenarnya berfungsi sebagai stimulus konsumsi musiman. Ketika jutaan pekerja menerima tambahan pendapatan pada waktu yang hampir bersamaan, likuiditas masyarakat meningkat dan aktivitas ekonomi ikut bergerak.
Pasar menjadi lebih ramai, usaha kecil mendapatkan tambahan pelanggan, dan sektor transportasi serta pariwisata mengalami lonjakan permintaan. Tidak berlebihan jika periode Lebaran sering disebut sebagai salah satu ”musim panen” bagi banyak pelaku usaha.
Namun, ketika nilai riil THR tergerus oleh kenaikan harga, fungsi stimulus itu menjadi lebih lemah. Uang tambahan yang diterima masyarakat tidak lagi sepenuhnya menciptakan konsumsi baru, tetapi habis untuk menutup kenaikan biaya hidup.
Dengan kata lain, THR tidak lagi menghasilkan surplus konsumsi, tetapi lebih sering berfungsi sebagai ”bantalan ekonomi” agar daya beli masyarakat tidak jatuh terlalu dalam.
DAYA BELI
Fenomena itu menunjukkan bahwa THR bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan juga indikator kecil tentang kesehatan ekonomi rumah tangga. Ketika THR terasa makin kecil, sedangkan harga kebutuhan terus meningkat, itu menandakan bahwa daya beli masyarakat sedang berada dalam tekanan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: