Mengapa AS-Israel Takut Iran Punya Bom Nuklir?

Mengapa AS-Israel Takut Iran Punya Bom Nuklir?

ILUSTRASI Mengapa AS-Israel Takut Iran Punya Bom Nuklir?-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Fenomena itu dikenal sebagai nuclear proliferation, ’penyebaran senjata nuklir ke berbagai negara’. Jika perlombaan senjata seperti itu terjadi, Timur Tengah akan berubah menjadi kawasan dengan tingkat risiko konflik paling tinggi di dunia.

Selain itu, Iran bukan negara yang berdiri sendiri secara geopolitik. Selama beberapa dekade terakhir, pengaruh Iran di kawasan berkembang cukup luas.

Di Lebanon terdapat Hezbollah yang memiliki hubungan ideologis dengan Teheran. Di Irak terdapat berbagai kelompok milisi yang memiliki kedekatan politik dengan Iran. Dalam berbagai konflik regional, Iran sering dipandang memiliki jaringan pengaruh yang cukup kuat.

Bayangkan jika negara dengan jaringan pengaruh seperti itu memiliki payung nuklir.

Ia mungkin tidak perlu menggunakan bom tersebut. Namun, keberadaannya saja sudah cukup untuk mengubah dinamika kekuatan di kawasan.

Dalam politik internasional, senjata nuklir sering berfungsi sebagai alat penangkal (deterrence). Negara yang memilikinya jarang diserang secara langsung karena risiko yang harus ditanggung lawannya menjadi terlalu besar. Di sinilah letak kegelisahan banyak pihak.

Jika Iran memiliki nuklir, posisi tawarnya dalam politik global akan meningkat secara signifikan.

Namun, di tengah semua kekhawatiran itu, terdapat satu ironi geopolitik yang menarik. Israel sendiri secara luas diyakini memiliki senjata nuklir meski negara tersebut tidak pernah secara resmi mengakuinya.

Situasi itu menciptakan ketidakseimbangan kekuatan di kawasan. Di satu sisi ada negara yang diyakini memiliki bom atom, di sisi lain ada negara yang berusaha mengembangkan teknologi nuklir tetapi menghadapi tekanan internasional yang sangat kuat.

Bagi sebagian pihak, kondisi itu dianggap sebagai upaya menjaga stabilitas kawasan. Namun, bagi pihak lain, ia dipandang sebagai bentuk dominasi kekuatan tertentu dalam sistem internasional.

Di sinilah persoalan nuklir Iran menjadi semakin kompleks. Ia bukan hanya persoalan teknologi. Ia juga bukan sekadar persoalan keamanan.

Ia adalah persoalan kekuasaan –tentang siapa yang berhak memiliki senjata paling mematikan di dunia dan siapa yang menentukan aturan dalam sistem internasional.

Selama pertanyaan itu belum menemukan jawaban yang adil bagi semua pihak, isu nuklir Iran sangat mungkin akan terus menjadi salah satu sumber ketegangan utama dalam geopolitik global.

Sebab, dalam dunia yang masih diatur oleh logika kekuatan, senjata yang belum ada pun sudah cukup untuk membuat banyak negara merasa takut. (*)

*) Ulul Albab, akademisi administrasi publik, Unitomo Surabaya dan ketua ICMI Jawa Timur.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: