Rayakan Libur Lebaran, Ada Festival Balon Udara Wonosobo Digelar di 23 Lokasi hingga 29 Maret
Pemandangan udara menunjukkan balon udara panas yang dihiasi motif tradisional sebelum diluncurkan selama festival balon udara panas tahunan yang diadakan untuk merayakan Idul Fitri, yang menandai berakhirnya bulan puasa suci Ramadhan, di desa Semayu di W-DEVI RAHMAN-AFP
WONOSOBO, HARIAN DISWAY - Festival Balon Udara WONOSOBO 2026 mulai digelar sejak 22 Maret dan akan berlangsung hingga 29 Maret di berbagai lokasi di Kabupaten WONOSOBO, Jawa Tengah. Kegiatan itu menjadi bagian dari rangkaian Festival Mudik 2026 yang tersebar di 23 titik.
Festival tahunan tersebut menampilkan penerbangan balon udara tradisional di sejumlah wilayah, termasuk kawasan lembah Sindoro-Sumbing, seperti Dusun Garung, Butuh, Kalikajar. Sejak hari pertama pelaksanaan, masyarakat dan wisatawan tampak memadati lokasi-lokasi penerbangan.
Pada Minggu, 22 Maret 2026, sejumlah titik yang menggelar kegiatan antara lain Lapangan Gemblengan di Wonolelo, wilayah Watumalang, serta kawasan Tanjungsari Land di Sapuran.
BACA JUGA:Uzbekistan dan Pelajaran Strategis bagi Industri Pariwisata Indonesia
BACA JUGA:Gerakan Gentengnisasi Bagian dari Visi Besar Pariwisata dan Penataan Lingkungan
Selain itu, kegiatan juga berlangsung di Lapangan Kembaran dan Butuh di Kalikajar. Warga mulai berdatangan sejak pagi hari untuk menyaksikan penerbangan balon udara yang dimulai sekitar pukul 06.00 WIB.
Festival balon udara tradisional juga digelar di Desa Semayu pada Senin, 23 Maret 2026. Kegiatan itu merupakan bagian dari tradisi tahunan masyarakat setempat dalam memperingati akhir Ramadan sekaligus merayakan Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah. Selain itu, festival tersebut menjadi bagian dari perayaan Syawalan yang identik dengan suasana pasca-Lebaran.

Suasana festival balon udara di Wonosobo, Jawa Tengah, 23 Maret 2026.-DEVI RAHMAN-AFP
Balon-balon udara berukuran besar yang diterbangkan umumnya terbuat dari kertas dengan berbagai motif tradisional. Penerbangan balon tersebut menjadi simbol rasa syukur masyarakat serta wujud kebersamaan melalui gotong royong dalam proses pembuatannya.
Selain sebagai tradisi budaya, festival itu juga menjadi daya tarik wisata. Lanskap pegunungan di antara Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro menjadi latar utama yang memperkuat daya tarik visual kegiatan tersebut. Pengunjung tidak hanya menikmati pemandangan balon udara, tetapi juga suasana alam khas pegunungan.
BACA JUGA:Malang Century Journey 2025, Wisata Bersepeda 163 Km yang Bikin Peserta Ketagihan
BACA JUGA:Dieng Culture Festival 2024 Dihelat Pekan Ini, Ada Prosesi Pemotongan Rambut 12 Anak Gimbal
Penyelenggaraan festival itu juga disebut sebagai upaya untuk mendorong kunjungan wisata ke Kabupaten Wonosobo. Kegiatan tersebut menghadirkan kombinasi antara hiburan, tradisi, dan potensi ekonomi lokal, khususnya di kawasan pedesaan.
Balon udara tradisional yang diterbangkan dalam festival tersebut juga mencerminkan kreativitas masyarakat dalam mempertahankan warisan budaya. Selain itu, kegiatan itu menjadi ruang ekspresi seni dan inovasi warga setempat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: