Surabaya dan Malang Raya Kini Bekerjasama dalam Proyek Sampah menjadi Energi Listrik

Surabaya dan Malang Raya Kini Bekerjasama dalam Proyek Sampah menjadi Energi Listrik

Petugas PLTSa Benowo Saat Mengolah Sampah Menjadi Energi Listrik -Pemkot Surabaya-

SURABAYA, HARIAN DISWAY – Jawa Timur kembali melakukan lompatan besar dalam tata kelola lingkungan. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa resmi menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) bersama tujuh kepala daerah dari kawasan Surabaya Raya dan Malang Raya.

Penandatanganan berlangsung di Gedung Negara Grahadi, Sabtu malam, 28 Maret 2026. Disaksikan langsung oleh Menteri Lingkungan Hidup RI Hanif Faisol Nurofiq. Kolaborasi ini dirancang untuk mengubah beban sampah perkotaan menjadi sumber Energi Baru Terbarukan (EBT) yang bernilai ekonomi tinggi.

"Ini adalah transformasi dari problem menjadi potensi. Kerja sama ini bukan sekadar mengelola limbah, tapi bagian dari solusi besar kita untuk menghadirkan lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan di Jatim," ujar Khofifah dikutip Senin, 30 Maret 2026. 

Sesuai Peraturan Presiden Nomor 105 Tahun 2025, operasional PSEL membutuhkan pasokan minimal 1.000 ton sampah per hari. Angka tersebut sulit dicapai jika hanya mengandalkan satu daerah. Oleh karena itu, sinergi lintas daerah menjadi kunci utama.

BACA JUGA:Surabaya Tambah PSEL di Sumberejo, Target Olah 800 Ton Sampah Per Hari

BACA JUGA:Walhi Jatim Minta Pemkot Dokumenkan AMDAL PLTSa Benowo Setelah Kalah Gugatan di PTUN

Di kawasan Surabaya Raya, total pasokan sampah mencapai 1.100 ton per hari. Kontribusi sampah ini berasal dari Kota Surabaya (600 ton), Gresik (250 ton), Sidoarjo (150 ton), dan Lamongan (100 ton). Fasilitas PSEL rencananya dibangun di Kelurahan Sumberejo, Kecamatan Pakal, Surabaya.


Tampak atas TPA Benowo, Surabaya.-Boy Slamet-Harian Disway

Sementara itu, kawasan Malang Raya menyumbang total 1.138,9 ton sampah per hari. Pasokan ini berasal dari Kabupaten Malang (600 ton), Kota Malang (500 ton), dan Kota Batu (38,09 ton). Lokasi pembangunannya direncanakan berada di Desa Bunut Wetan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang.

BACA JUGA:Surabaya Tambah PSEL di Sumberejo, Target Olah 800 Ton Sampah Per Hari

BACA JUGA:Presiden Prabowo Dorong Kemandirian Pengolahan Sampah Berbasis Teknologi Dalam Negeri

Khofifah memastikan Pemprov Jatim akan mengawal ketat mulai dari monitoring, evaluasi, hingga fasilitasi kendala lintas daerah agar prosesnya transparan dan akuntabel. "Ikhtiar lahiriah ini juga harus dibersamai dengan ikhtiar batin agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat," imbuhnya.

Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq memberikan apresiasi tinggi atas inisiatif ini. Ia menyebut Jawa Timur sebagai barometer nasional karena capaian pengelolaan sampahnya mencapai 52,7 persen, jauh melampaui rata-rata nasional yang masih di angka 24,95 persen.

"Jawa Timur mencatatkan prestasi luar biasa. Praktik open dumping di sini juga tersisa 44,7 persen, jauh lebih baik dari angka nasional yang masih 66 persen. Daerah lain harus menjadikan Jatim sebagai rujukan," tegas Hanif.(*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: