Seandainya Anwar Sadat dan Yitzhak Rabin Tidak Ditembak Mati

Seandainya Anwar Sadat dan Yitzhak Rabin Tidak Ditembak Mati

Penulis saat mewawancarai Presiden Israel, Shimon Perez, di Tel Aviv tahun 2007.-Dokumen Pribadi-

Namun langkah melawan arus yang diambil Anwar Sadat harus dibayar mahal. Pada bulan Oktober 1981, pada saat memimpin parade militer memperingati 8 tahun kemenangan dalam Perang Yom Kippur, Anwar Sadat ditembak mati oleh tentaranya sendiri. Kematian Anwar Sadat mengubur kembali harapan untuk mencapai kemerdekaan Palestina melalui jalur diplomasi dan perdamaian.

Yitzak Rabbin

Perdamaian antara Palestina dengan Israel juga nyaris tercapai pada tahun 1995 menyusul perjanjian damai yang ditandatangani oleh Yitzhak Rabin dengan Yasser Arafat melalui mediasi Presiden AS Bill Clinton (Perjanjian Oslo). Tidak hanya dengan Palestina, Rabin juga menandatangani perjanjian damai dengan Raja Hussein Jordania.

BACA JUGA:Warga Singapura Heran Harga BBM di Indonesia Stabil di Tengah Perang Timur Tengah

BACA JUGA:AS Kirim Proposal Damai ke Iran, Harapan Akhiri Perang Timur Tengah Menguat

Agak berbeda dengan kebijakan politik partai sayap kanan Israel seperti Partai Likud yang berkuasa saat ini, Yitzhak Rabin dari Partai Buruh lebih bersikap moderat dan pragmatis. Sama dengan pemikiran Anwar Sadat, tidak selamanya perang akan menyelesaikan masalah, karena itu perlu diperjuangkan jalur diplomasi dan perdamaian. Prinsip pemikiran Rabin adalah bahwa negara Israel harus tetap berdiri di Timur Tengah dan karena itu Israel harus mau berdamai dengan negara-nagara Arab. Termasuk mengakui PLO sebagai otoritas wilayah Palestina baik di Tepi Barat maupun Jalur Gaza. 

Penandatanganan perjanjian damai antara Palestina dengan Israel tahun 1994 menjadi babak baru dalam dinamika geopolitik di Timur Tengah. Selurun dunia menyaksikan momen bersejarah di mana Pemimpin Palestina akhirnya berjabat tangan dengan pemimpin israel. Harapan baru akan terwujudnya Solusi Dua Negara semakin terbuka. 

“Kami yang memerangi Anda wahai bangsa Palestina, kami katakan kepada Anda semua saat ini dengan suara yang keras dan jelas, cukup sudah darah dan air mata. Cukup,” kata Yitzhak Rabin di depan puluhan ribu pendukungnya pada pawai perdamaian di tel aviv, 4 November 1995.

Sayangnya, kesepakatan damai ini bukan tanpa pertentangan termasuk di Israel sendiri. Kelompok sayap kanan garis keras menolak  kesepakatan damai dengan Palestina. Mereka mengancam Yitzhak Rabin.  Dan, dalam perjalanan menuju mobilnya usai pawai perdamaian di Tel Aviv tersebut, seorang aktivis yahudi sayap kanan Israel bernama Yigal Amir memuntahkan lima tembakan ke kepala Yitzhak Rabin. Rabin tewas di tempat tak jauh dari mobil yang akan dinaikinya. Posisi Rabin digantikan oleh Shimon Perez, juga tokoh dari Partai Buruh. Namun tewasnya Rabin kembali mengubur asa perdamaian antara Israel dengan Palestina. 

BACA JUGA:Harga Minyak Dunia Anjlok, Bursa Saham Menguat di Tengah Harapan Damai Timur Tengah

BACA JUGA:Prabowo Telepon Pemimpin Dunia saat Idulfitri, Serukan Perdamaian Konflik Timur Tengah

Dalam dua dekade terakhir, Partai Buruh dan partai sayap kiri  lain cenderung kalah dalam pertarungan politik di israel. Saat ini pemerintah yang berkuasa di Israel adalah Partai Likud dengan benjamin netanyahu sebagai perdana menteri. Ideologi Partai Likud sangat keras dan menolak eksistensi negara Palestina. Dengan gempuran Iran ke israel yang tiada henti hingga saat ini, semoga Partai Likud tumbang dan digantikan oleh kepemimpinan politik yang lebih moderat dan memilih jalan perdamaian daripada perang. (*)

*) Wartawan senior. Pernah meliput konflik Palestina tahun 2007. Alumnus Paramadina Graduate School of Diplomacy (PGSD) Jakarta

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: