Seandainya Anwar Sadat dan Yitzhak Rabin Tidak Ditembak Mati

Seandainya Anwar Sadat dan Yitzhak Rabin Tidak Ditembak Mati

Penulis saat mewawancarai Presiden Israel, Shimon Perez, di Tel Aviv tahun 2007.-Dokumen Pribadi-

Dalam sejarah Timur Tengah modern, ada dua tokoh di pusaran konflik yang nyaris membawa perdamaian abadi di Teluk. Yaitu Presiden Mesir Anwar Sadat dan perdana menteri israel Yitzhak Rabin. Meski memimpin dalam periode yang berbeda, namun Sadat dan Rabin adalah dua tokoh yang nyaris membawa perdamaian antara negara-negara Arab dengan israel. Sayangnya, sejarah mencatat, kedua tokoh tersebut tewas ditembak mati oleh rakyatnya sendiri. 

Anwar Sadat

Anwar Sadat menjadi Presiden Mesir pada Oktober tahun 1970 menggantikan Gamal Abdul Nasser yang wafat karena sakit. Pada masa tersebut, kepercayaan dunia Islam terhadap Mesir dan negara-negara Arab berada pada titik terendah. Ini menyusul kekalahan koalisi negara Arab dari israel pada Perang Enam Hari (Six Day War) tahun 1967. Gamal Naser mengalami tekanan psikologis yang berat sehingga sakit da wafat pada 1970 digantikan oleh Wapres Mesir Anwar Sadat.

Kekalahan pada Perang Enam Hari adalah kekalahan fatal bagi negara-negara Arab dan dunia Islam. Kekalahan dalam Perang Enam Hari membawa konsekuensi buruk yaitu: semakin luasnya wilayah Israel di Timur Tengah, jatuhnya kota Jerusalem Timur dan penguasaan Masjid Al Aqsa dari Jordania, jatuhnya Dataran Tinggi Golan dari Suriah, pendudukan wilayah Gurun Sinai Mesir oleh Israel, dan wilayah Gaza Palestina dikuasai Israel. Kekalahan militer dan politik yang sangat fatal. 

Setelah menjadi presiden ,  Anwar Sadat tidak mengubah haluan politik luar negeri Mesir: tetap melawan Israel.  Hingga pada Oktober 1973, Mesir dibantu oleh Suriah, Jordania, Iraq, dan Libya melakukan serangan militer dadakan ke wilayah Israel bertepatan dengan hari libur perayaan agama Yahudi, Yom Kipur. Perang yang dinamai Perang Yom Kipur menjadi catatan sejarah pertama kemenangan koalisi negara Arab terhadap Israel sejak negeri Yahudi itu berdiri pada 1948.

BACA JUGA:10 Fakta Sebulan Perang AS–Israel vs Iran yang Mengguncang Timur Tengah dan Dunia

BACA JUGA:Hadapi Arus Balik dan Gejolak Timur Tengah, Pemerintah Maksimalkan Produksi Domestik dan Alternatif Impor

Anwar Sadat menjadi ikon baru dunia Islam dalam perang melawan Israel. Meski popularitas dan kharismanya tidak sekuat Gamal Abdul Nasser, namun Anwar Sadat sukses mengembalikan harga diri rakyat Mesir. Dalam Perang Yom Kipur yang berakhir dengan gencatan senjata, Mesir berhasil menguasai kembali Gurun Sinai dan Terusan Suez. 

Sayangnya, Suriah belum berhasil menguasai kembali Dataran Tinggi Golan dan kota Jerusalem Timur (Al Quds)  di mana berdiri Masjil Al Aqsa belum dikuasai kembali oleh Jordania. Meskipun demikian, Perang Yom Kippur membangkitkan kembali perjuangan Palestina dari penjajahan israel.

Berbeda dengan Gamal Nasser yang membawa semangat persatuan Negara-Negara Arab dan memilih jalur militer dalam menghadapi Israel, Anwar Sadat berpikir lebih pragmatis. Pasca kemenangan dalam Perang Yom Kippur, Sadat mulai berpikir jalur non perang dan diplomasi untuk menjamin kesejahteraan ekonomi Mesir dalam jangka panjang. Untuk mewujudkan tujuan mencapai keamanan dan kesejahteraan dalam jangka tersebut, Anwar Sadat mengambil langkah kontroversial: membuka dialog dengan Israel, musuh bebuyutan negara-negara Arab. 

Hingga puncaknya, melalui mediasi Presiden Amerika Serikat Jimmy Carter dan negosiasi rahasia di Camp David, Anwar Sadat dan Perdana Menteri Israel Menachem Begin menandatangani perjanjian damai di Washington DC tahun 1979. Mesir pun menjadi negara Arab pertama yang membuka hubungan diplomatik dengan Israel.


Warga Palestina di wilayah pendudukan israel di Jerusalem.-Tofan Mahdi-

Langkah diplomatik Anwar Sadat memicu kontroversi dan kecaman luas dari negara-negara Islam, termasuk dari Pemimpin PLO (Organisasi Pembebasan Rakyat Palestina) Yasser Arafat.  Suriah di bawah Hafez Al Assad mengambil langkah tegas: membekukan hubungan diplomatik dengan Mesir. Dan Mesir juga dikeluarkan sebagai anggota Liga Arab

Di sisi lain, dalam keyakinan Anwar Sadat, harapan akan kemerdekaan Palestina lebih terbuka melalui jalur diplomasi. Karena kesepakatan perdamaian Mesir dengan Israel tersebut, Anwar Sadat dan Menachem Begin mendapat penghargaan Nobel Perdamaian.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: