FGD Bank Indonesia, Akademisi, dan Peneliti di Palembang 2026 (1): Optimisme Menghadapi Tekanan Global

FGD Bank Indonesia, Akademisi, dan Peneliti di Palembang 2026 (1): Optimisme Menghadapi Tekanan Global

ILUSTRASI FGD BI, Akademisi, dan Peneliti di Palembang 30 Maret–2 April 2026 (1): Optimisme Menghadapi Tekanan Global.-Arya/AI-Harian Disway -

DI semester I 2026 ini, Bank Indonesia kembali mengundang 57 akademisi dan peneliti lembaga riset untuk mendiskusikan hasil rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 16–17 Maret 2026. Focus group discussion (FGD) diselenggarakan di Hotel Arista, Palembang

Seperti tahun-tahun sebelumnya, kami diundang bersama dengan akademisi dan peneliti lain untuk mendengarkan penjelasan langsung dari deputi direktur Bank Indonesia, baik dari Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter, Departemen Makroprudensial, Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran, maupun dari Departemen Internasional. 

Seperti diumumkan di berbagai media massa, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada pertengahan bulan Maret lalu memutuskan untuk mempertahankan BI rate sebesar 4,75 persen, suku bunga deposit facility sebesar 3,75 persen, dan suku bunga lending facility sebesar 5,50 persen. 

Keputusan itu diambil untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak memburuknya kondisi global akibat perang di Timur Tengah serta menjaga pencapaian sasaran inflasi 2026/2027 dalam sasaran 2,5±1 persen. 

BACA JUGA:FGD Bank Indonesia tentang Prospek Ekonomi Indonesia 5 Maret 2026: Memperkuat Resiliensi, Mencari Peluang

Bank Indonesia menyadari sepenuhnya bahwa kunci untuk dapat selamat dan bahkan keluar dari tekanan krisis global yang dipicu kenaikan harga minyak dunia adalah stabilitas nilai tukar rupiah. 

STABILITAS RUPIAH

Sejak perang di Timur Tengah pecah,  Bank Indonesia kembali dihadapkan pada situasi problematis yang pelik, sebuah kombinasi antara imbas kenaikan harga minyak mentah dunia dan tekanan domestik yang memaksa BI bekerja ekstra keras menjaga stabilitas rupiah. Ibarat badai, apa yang tengah dihadapi Indonesia saat ini sungguh bukan hal yang ringan.

Bulan Maret 2026 ini, saat FGD digelar, tekanan terhadap rupiah begitu kuat. Laporan pasar menunjukkan, rupiah sempat tertekan tajam mendekati level psikologis Rp17.000 per dolar AS. Itu adalah level terendah dalam beberapa tahun terakhir. 

Pelemahan rupiah yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir telah memicu kekhawatiran akan terjadinya inflasi yang berdampak menggerus daya beli masyarakat. 

BACA JUGA:FGD Bank Indonesia 2-3 Oktober 2025 (1): Melestarikan Cultural Heritage Melalui Tenun Endek

BACA JUGA:FGD Bank Indonesia 2-3 Oktober 2025 (2): Menjaga Stabilitas dan Mengejar Pertumbuhan Ekonomi yang Lebih Baik

BACA JUGA:FGD Bank Indonesia 2-3 Oktober 2025 (3-Habis): Digitalisasi Sistem Pembayaran di Indonesia

Situasi itu menempatkan BI dalam posisi dilematis: menaikkan suku bunga untuk menahan modal asing keluar atau menahannya demi mendorong pertumbuhan ekonomi yang sedang butuh napas.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: