'I Can Change My Mind in Seconds,' Katastrofe Donald Trump?

'I Can Change My Mind in Seconds,' Katastrofe Donald Trump?

ILUSTRASI 'I Can Change My Mind in Seconds,' Katastrofe Donald Trump? -Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -

MEDIA terkemuka dan berpengaruh di Spanyol, El Pais, 31 Maret 2026, menulis artikel menarik tentang gaya dan strategi komunikasi Presiden Amerika Serikat Donald Trump selama perang melawan Iran. 

El Pais menguraikan kronologi bagaimana Trump membuat narasi-narasi untuk memengaruhi publik agar mendukung keputusannya menggelar Operation Epic Fury.

Trump menyampaikan apa pun menurut versinya tentang perang di Timur Tengah setiap hari melalui konferensi pers, wawancara, dan unggahan media sosial. 

El Pais menulis Donald Trump has missed no opportunity to recount –and distort– his version of the war he launched against Iran alongside Israel a month ago. Ya, Trump menceritakan kembali –dan memutarbalikkan– menurut versinya tentang perang yang dilancarkannya terhadap Iran bersama Israel.

BACA JUGA:Adu Narasi Donald Trump dan Iran tentang Akhir Perang: Klaim Segera Berakhir untuk Tenangkan Pasar

BACA JUGA:Donald Trump Melunak, Siap Akhiri Perang Iran

NARASI INTIMIDATIF DAN SARKASTIS

Mengutip arsip media Amerika Serikat, Roll Call, sejak 28 Februari hingga akhir Maret El Pais mencatat Trump telah memberikan lebih dari 50 wawancara, berbicara di hampir 20 acara. Trump juga menjawab pertanyaan media belasan kali di dalam atau di tangga pesawat Air Force One.

Pada saat yang sama, Trump juga menulis 40 lebih unggahan tentang Iran di jejaring sosialnya, Truth, membagikan artikel pers yang mendukungnya sekitar selusin kali, dan memosting ulang pesan dari para pejabat yang mendukung posisinya

Fakta menarik dari retorika Trump selama perang ini adalah penggunaan narasi-narasi yang intimidatif dan cenderung sarkastis. Itu tidak hanya ke lawan, tetapi juga ke sekutunya. 

Gaya komunikasinya ke Teheran bernada intimidasi dan limitasi tentu logis.  Trump sering menegaskan narasi ”tidak akan ada kesepakatan dengan Iran kecuali penyerahan tanpa syarat”.

BACA JUGA:Menilik Dewan Perdamaian Donald Trump yang Diluncurkan di Davos, Dewan Kontroversial

BACA JUGA:Donald Trump Pakai Pin Kecil Kartun Dirinya, Dinamai Happy Trump

Namun, terhadap aliansinya pun, seperti anggota NATO, ia sebut ”pengecut”. Secara spesifik, Trump menyebut Spanyol sangat buruk. Inggris disebut ini bukan Winston Churchill yang kita hadapi. Ini tentu semua karena NATO menolak berpartisipasi dan mendukung operasi AS terhadap Iran.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: