Sepuluh Tuntutan dan Satu Tong Sampah

Sepuluh Tuntutan dan Satu Tong Sampah

ILUSTRASI Sepuluh Tuntutan dan Satu Tong Sampah.-Arya/AI-Harian Disway -

Selat Hormuz. Jalur laut yang hanya selebar 33 kilometer di titik tersempitnya. Tapi, menanggung beban 20 persen perdagangan minyak dunia. Sekarang 230 kapal tanker mengantre di sana seperti truk di Puncak saat libur Lebaran.

Iran sempat menjanjikan koridor aman selama gencatan senjata. Bersama Oman, mereka berencana memungut biaya transit USD2 juta per kapal. Dana itu, katanya, untuk rekonstruksi. 

Namun, kemudian ketua parlemen Iran menuduh AS melanggar tiga klausul kerangka kerja, termasuk soal Lebanon. Lalu lintas Hormuz pun ditangguhkan lagi.

Trump kemudian meminta sekutu Eropa mengirimkan kapal perang sungguhan ke selat itu. Bukan lagi janji politik, melainkan aset militer nyata. 

Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte menegaskan hal yang sama: komitmen politik sudah tidak cukup. Komisi Eropa menyatakan, kebebasan navigasi harus dijamin tanpa biaya atau tol.

Sementara itu, harga minyak sempat turun ke bawah USD100 per barel saat gencatan diumumkan. Lalu, naik lagi ke USD97 ketika pasar mulai curiga gencatan itu tidak akan bertahan lama. 

Pasar minyak, seperti tukang sayur saya, punya insting yang lebih tajam daripada diplomat.

APA URUSAN KITA?

Saya membayangkan ada pembaca yang bertanya: ini urusan Iran, Israel, Amerika Serikat. Apa hubungannya dengan kita?

Hubungannya ada di dapur Anda. Di SPBU tempat Anda mengisi bensin. Di ongkos kirim belanja online Anda. Indonesia mengimpor sekitar 40 persen kebutuhan minyaknya. 

Sebagian besar melewati jalur laut yang sekarang sedang tersumbat atau terancam. Ketika 230 kapal tanker terjebak di Hormuz, gelombangnya sampai ke harga minyak goreng di warung depan rumah Anda.

Tapi, ada yang lebih fundamental. Gencatan senjata itu memperlihatkan sesuatu yang jarang dikatakan dengan jujur: tatanan dunia sedang bergeser. 

Pakistan menjadi mediator antara Amerika Serikat dan Iran. Tiongkok dilibatkan dalam negosiasi. Eropa diminta berkontribusi militer nyata. Lebanon menjadi garis patahan. 

Dan, di tengah semua itu, sebuah negara kepulauan dengan 275 juta penduduk di jalur pelayaran paling strategis di dunia hanya bisa menonton.

Tukang sayur tadi mungkin tidak tahu di mana Selat Hormuz. Tapi, dia sudah tahu sesuatu yang banyak pejabat kita belum akui: dunia sedang berubah, dan perubahannya terasa langsung di kantong rakyat kecil.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: