Kampung Pancasila, Wajah Humanis Surabaya Menuju Kota Global

Kampung Pancasila, Wajah Humanis Surabaya Menuju Kota Global

ILUSTRASI Kampung Pancasila, Wajah Humanis Surabaya Menuju Kota Global.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -

SURABAYA tidak sedang sekadar membangun kota –ia sedang merawat jiwa. Di tengah laju modernisasi dan ambisi menjadi kota global, SURABAYA memilih untuk tidak tercerabut dari akarnya. 

Ia menegaskan bahwa kemajuan bukan hanya tentang infrastruktur yang megah, melainkan juga tentang manusia yang saling terhubung, peduli, dan hidup dalam semangat kebersamaan. Di titik itulah, Kampung Pancasila hadir sebagai wajah paling jernih dari komitmen tersebut.

Komitmen itu menemukan bentuk nyatanya dalam peluncuran Kampung Pancasila yang berlokasi di RW 02, Kelurahan Kemayoran, Kecamatan Krembangan, Kota Surabaya, tepatnya di Jalan Krembangan Bhakti Nomor 42. 

Lokasi itu bukan sekadar titik geografis, melainkan juga simbol dimulainya penguatan nilai-nilai kebangsaan dari ruang paling dekat dengan kehidupan warga –kampung. Dari ruang sederhana itulah, cita-cita besar tentang Surabaya yang humanis, modern, dan berkelanjutan ditanamkan dan dirawat bersama.

BACA JUGA:Dari Kisah Nyata ke Simbol Kebhinekaan, Kampung Na Willa Ditetapkan Jadi Kampung Pancasila

BACA JUGA:Eri Bentuk Satgas Kampung Pancasila Se-Surabaya

Kampung Pancasila bukan sekadar program, apalagi simbol administratif. Ia adalah ruang hidup yang menegaskan kembali bahwa nilai-nilai Pancasila tidak berhenti sebagai teks, tetapi harus hadir dalam tindakan sehari-hari. 

Di dalamnya, keberagaman dirawat dengan rasa hormat, perbedaan disikapi dengan kedewasaan, dan gotong royong menjadi kebiasaan, bukan sekadar slogan. 

Di kampung-kampung itulah, Surabaya menunjukkan bahwa kekuatan kota tidak hanya terletak di gedung-gedung tinggi, tetapi juga pada relasi sosial yang hangat dan saling menjaga.

Komitmen Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi untuk menjadikan kota ini sebagai kota yang humanis, modern, dan berkelanjutan menemukan bentuk nyatanya di Kampung Pancasila. Modernitas yang dibangun tidak dibiarkan menciptakan jarak antarwarga, tetapi diarahkan untuk memperkuat kualitas hidup bersama. 

BACA JUGA:Eri Bentuk Satgas Kampung Pancasila Se-Surabaya

Kota yang modern bukan yang dingin dan individualistis, melainkan yang tetap hangat, inklusif, dan memberikan ruang bagi setiap warganya untuk tumbuh dengan aman dan bermartabat.

Di sisi lain, keberlanjutan tidak hanya dimaknai sebagai pembangunan fisik yang ramah lingkungan, tetapi juga sebagai keberlanjutan nilai sosial. Kampung Pancasila membangun ketahanan sosial. 

Ketika warga saling mengenal, saling peduli, dan terbiasa bergotong royong, rasa aman tidak hanya hadir karena aturan, tetapi tumbuh dari kesadaran bersama. Itulah fondasi kota yang benar-benar berkelanjutan: kota yang kuat karena warganya saling menjaga.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: