Energi Terbarukan
ILUSTRASI Energi Terbarukan.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -
BACA JUGA:Indonesia Punya Cadangan Biofuel Melimpah, Bisa Jadi Kunci Transisi Energi Terbarukan
Energi terbarukan bersifat intermittent (bergantung cuaca atau waktu). Sedangkan energi fosil bersifat baseload (selalu tersedia). Substitusi 100 persen memprasyaratkan evolusi pada sistem penyimpanan energi (baterai) maupun integrasi smart grid.
Oleh sebab itu, substitusinya mungkin bukan replace langsung, melainkan transisi sistemik terbatas.
Mengacu best-practices negara-bangsa yang sukses menghadirkan energi terbarukan, beberapa cara yang dianggap paling efektif untuk mempercepat kehadiran energi terbarukan.
Pertama, strategi dekarbonisasi sisi permintaan dan sisi penawaran secara simultan. Langkah praktikalnya adalah memberikan subsidi atau potongan pajak bagi industri dan rumah tangga yang mengadopsi energi terbarukan.
Di samping itu, mempermudah izin investasi proyek energi terbarukan dan memberikan kepastian hukum terhadapnya. Tentu tak kalah pentingnya adalah pemanfaatan teknologi hybrid. Menggabungkan berbagai sumber energi (PLTS, PLTA, PLTM) untuk menjaga stabilitas daya.
Kedua, investasi infrastruktur yang mencakup grid modern, energy storage, dan interkoneksi antarwilayah.
Ketiga, industrialisasi hijau. Prioritasnya mendorong manufaktur panel surya, EV, baterai. Dan, integrasi dengan kebijakan hilirisasi.
Keempat, desentralisasi produksi dan pengelolaan energi terbarukan secara asimetri. Sesuai dengan kondisi alam dan ketersediaan sumber energi terbarukan setempat.
Kelima, kolaborasi negara-swasta dalam bentuk kemitraan ataupun blended finance dan lain-lain.
Sebagaimana lazimnya proses transisi yang melibatkan inovasi baru sebagai pengganti yang lama, transisi ke arah energi terbarukan pun menghadapi tembok hambatan.
Misalnya, biaya investasi awal yang sangat mahal. Pembangunan infrastruktur awal untuk energi terbarukan (turbin, butterfly valve, ball valve, main inlet valve, kitiran angin, panel surya, baterai, kabel, dan lain-lain) membutuhkan keahlian dan modal besar. Meski, ke depan biaya operasional energi terbarukan itu rendah.
Hambatan selanjutnya terkait kesiapan infrastruktur jaringan. Maksudnya, jaringan infrastruktur lama kebanyakan tidak kompatibel untuk input energi terbarukan yang pasokannya naik-turun. Selanjutnya, hambatan inersia politik dan ekonomi.
Karena sudah terpaku lama dengan energi fosil, para pihak (oligarki, kartel, pekerja) yang diuntungkan oleh keberadaan energi fosil berat hati untuk beralih ke energi terbarukan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: