Energi Terbarukan

Energi Terbarukan

ILUSTRASI Energi Terbarukan.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -

Terhadap keseluruhan fenomena energi terbarukan itu, menarik untuk mencermati bagaimana perspektif ”energy transition” menjelaskannya dalam bingkai struktural. Ditegaskan, transisi energi adalah perubahan struktural jangka panjang dalam cara energi diproduksi, didistribusikan, dan dimanfaatkan. 

Transisi energi itu bukan soal pergantian teknologi semata. Melainkan, merupakan transformasi ekonomi, politik, sosial, dan kelembagaan sekaligus. Jadi, ini bukan soal inovasi energi saja, melainkan juga transformasi sistemik. 

Lebih jauh dijelaskan, kunci pokok dari transisi energi itu bersifat gradual. Tidak mungkin ujuk-ujuk. Juga, bersifat nonliniar. Tak selalu lancar. Bisa terjadi percepatan. Bisa stagnan. Bisa pula mengalami kemunduran. Pun, bersifat path dependency

Artinya, sistem energi fosil cenderung berupaya bertahan. Pasalnya, modal investasi yang sudah ditanam amat besar. Infrastrukturnya pun telanjur terbangun. Tentu juga ada kepentingan politik aktor di dalamnya. 

Karena itu semua, perspektif energy transition mengonstatasikan bahwa transisi dari energi fosil ke energi terbarukan merupakan proses yang kompleks, gradual, ada tarik-menarik kepentingan yang keras dengan melibatkan kekuasaan, perubahan teknologi, relasi kelas, struktur ekonomi, dan interaksi budaya sekaligus. 

Dengan kata lain, yang berubah bukan hanya energinya, melainkan juga seluruh sistem peradaban yang terkait pada energi tersebut.

Hingga di sini, satu hal yang pasti, yaitu jika transformasi dan transisi energi terbarukan itu gagal dihadirkan oleh suatu negara-bangsa, risiko terburuk yang niscaya akan dialami adalah krisis ekologi sistemik, kerentanan dan ketidakstabilan geopolitik negara-bangsa, serta tertinggal dalam ekonomi global. Nah! (*)

*) Haryadi adalah penasihat Senior Lab 45 dan dosen di FISIP, Universitas Airlangga. 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: