Hari Kartini: Antara Perayaan dan Pemaknaan
ILUSTRASI Hari Kartini: Antara Perayaan dan Pemaknaan.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -
SETIAP 21 April, kita kembali menyebut satu nama yang begitu akrab di telinga, yaitu Kartini. Di sekolah-sekolah, anak-anak perempuan mengenakan kebaya, rambut disanggul rapi, berjalan anggun seolah sedang menghidupkan kembali sosok perempuan dari masa lalu.
Di kantor-kantor, peringatan digelar dengan penuh semangat. Di media sosial, kutipan-kutipan tentang perempuan dan emansipasi kembali beredar luas. Namun, di tengah semua itu, ada satu pertanyaan sederhana yang layak kita renungkan bersama: apakah kita benar-benar memahami Kartini atau sekadar merayakannya?
Kartini bukan hanya nama yang kita putar ulang setiap tahun. Kartini adalah suara, suara yang lahir dari kegelisahan, dari keterbatasan, dari keinginan untuk hidup sebagai manusia yang utuh. Dia menulis bukan karena ingin dikenang, tetapi karena ingin dimengerti.
BACA JUGA:Inspirasi Kebaya Kekinian dan Daftar Kegiatan Hari Kartini, 21 April 2026
BACA JUGA:Ascott Waterplace Surabaya Rayakan Hari Kartini, Ajak Tamu Membuat Tembikar Bermotif Batik
Kartini tidak hanya berbicara tentang akses pendidikan, tetapi juga tentang kebebasan berpikir, otonomi diri, kritik terhadap struktur sosial patriarki, dan pentingnya kesetaraan manusia sebagai prinsip universal.
Dalam sunyi pingitan, Kartini berbicara tentang dunia yang lebih adil, tentang perempuan yang bisa berpikir, belajar, dan menentukan nasibnya sendiri. Hari ini, lebih dari satu abad kemudian, suara itu masih bergema. Anmun, gema tersebut kadang terdengar samar-samar, tertutup oleh riuh rendahnya perayaan yang terkadang dapat menjauhkan kita dari maknanya.
Kita hidup di zaman yang sangat berbeda dari masa Kartini. Perempuan hari ini bisa bersekolah setinggi-tingginya, bekerja di berbagai bidang, bahkan memimpin institusi besar. Banyak perempuan yang menjadi akademisi, pengusaha, aktivis, pemimpin, dan penggerak perubahan.
BACA JUGA:Rona Rasa: Fashion Show dan Demo Masak di Wyndham Surabaya, Rayakan Hari Kartini
BACA JUGA:BRInita dan Hari Kartini: Langkah BRI Memberdayakan Perempuan Lewat Urban Farming
Secara kasatmata, dunia tampak lebih ramah bagi perempuan. Namun, kehidupan tidak selalu sesederhana itu. Di balik capaian-capaian tersebut, masih ada perempuan yang harus berjuang diam-diam.
Perempuan yang bekerja keras di ruang publik, tetapi tetap dibebani ekspektasi domestik yang tak pernah berkurang. Perempuan yang suaranya didengar, tetapi belum sepenuhnya dipercaya. Perempuan yang berani tampil, tetapi masih dihakimi standar-standar yang tidak adil.
Masih ada perempuan yang harus memilih antara karier dan keluarga, seolah keduanya tidak bisa berjalan beriringan. Masih ada yang harus menahan diri, mengurangi suara, agar tidak dianggap ”terlalu” dan melebihi kodratnya.
Masih ada yang menjadi korban kekerasan, baik di ruang nyata maupun di ruang digital. Di titik itu, kita mulai menyadari bahwa perjuangan Kartini sebenarnya belum selesai.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: