IFI Surabaya Peringati Hari Kartini, Bedah Konsep Androgini dan Pencerahan Prancis

IFI Surabaya Peringati Hari Kartini, Bedah Konsep Androgini dan Pencerahan Prancis

Para Pembicara Esthi Susanti (Kiri), dan Dede Oetomo (Kanan) saat mengisi diskusi bedah pemikiran Kartini dengan dipandu moderator Liestianingsih Dayanti (tengah) di Auditorium IFI Surabaya, Senin, 20 April 2026--IFI Surabaya

Namun, banyak hal yang belum diungkap dari buku tersebut. Esthi menyoroti bahwa dimensi spiritualitas Kartini perlu diulas. 

Melalui analisanya, pemikiran bebas Kartini berasal dari kemampuan spiritualitas yang melampaui psikis sosial. Hal itu didukung dengan latar belakang Kartini. Dia berasal dari keluarga kyai. 

Dengan latar belakang tersebut, Kartini diduga seorang sufisme. Kemudian didukung dengan sosial-budaya masyarakat Indonesia. Yang sangat berfokus pada keseimbangan. 

BACA JUGA:Kartini Survivor: Rentan Alami Kelelahan Emosional, Para Pendamping Boleh Mundur Sejenak untuk Rawat Kewarasan

BACA JUGA:Kartini dalam Cermin Retak: Ketika Emansipasi Tersandung Budaya yang Tak Selesai

Sehingga perspektif feminisme Kartini dipandang sebagai kesetaraan hak wanita di berbagai bidang. Tanpa menghilangkan kearifan lokal Indonesia. Hingga membentuk identitas feminisme khas. 

“Sebenarnya, Kartini tidak hanya memperjuangkan kesetaraan. Tapi dia juga seorang tokoh pluralis perempuan pertama di Indonesia,” imbuh Esthi.

Pakar Sosiolinguistik, Gender, dan Seksualitas Dede Oetomo menjelaskan bahwa latar budaya sosial Jawa abad ke-19 mempengaruhi Kartini. Pada masa itu dia dalam menyerap ide Barat dan konsep androgini. 


Pada sesi penutup para peserta berfoto bersama, Senin, 20 April 2026--IFI Surabaya

Kartini menjadi androgen karena bacaan dan sifatnya. Generasi Kartini hingga Pramoedya Ananta Toer, berani menyatakan bahwa tidak semua tradisi lokal perlu dipertahankan. 

BACA JUGA:Soul Empower: Kartini Edition, Gelang Manik-Manik Jadi Ajang Self-Healing dan Asah Kreativitas

BACA JUGA:Inspirasi Kebaya Kekinian dan Daftar Kegiatan Hari Kartini, 21 April 2026

“Kartini memadukan pemikiran Barat dengan unsur-unsur lokal. Dia memilih untuk meninggalkan kebudayaan sendiri yang tidak sehat dan diskriminatif,” ujar Dede. 

Selain itu, Dede juga mengingatkan bahwa dalam memahami pemikiran Kartini harus berhati-hati. Agar terhindar dari bias eurosentrisme. 

“Dengan kata lain, tugas kita adalah tidak menerima mentah-mentah apa yang ditulisnya,” pungkasnya. (*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: