Kamus Disway Mengakui Kesadaran Gender RA Kartini
ILUSTRASI Kamus Disway Mengakui Kesadaran Gender RA Kartini.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -
Bagi Kartini, kesadaran gender bukan sekadar soal kesetaraan formal, melainkan juga tentang kesadaran akan ketidakadilan yang dialami perempuan dan dorongan untuk mengubahnya melalui pendidikan dan pemikiran kritis.
Dalam kumpulan suratnyi, yang kemudian dibukukan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang, Kartini menunjukkan bentuk gender awareness yang sangat maju untuk zamannyi.
BACA JUGA:Kartini dalam Cermin Retak: Ketika Emansipasi Tersandung Budaya yang Tak Selesai
BACA JUGA:Inspirasi Kebaya Kekinian dan Daftar Kegiatan Hari Kartini, 21 April 2026
Perempuan harus sadar kalau mereka dibatasi, bukan karena tidak mampu, melainkan karena sistem. Kartini menyadari bahwa perempuan Jawa saat itu dibatasi oleh adat istiadat, tidak bebas sekolah, dipingit, dan dinikahkan muda. Dia tidak menerima kondisi itu sebagai ”kodrat”, tetapi sebagai konstruksi sosial yang bisa dikritik.
Belajar itu bukan pilihan, melainkan jalan keluar. Bagi Kartini, kunci kesadaran gender adalah pendidikan. Perempuan harus berpikir, membaca, dan memahami dunia agar bisa menentukan nasibnyi sendiri. Itu sangat dekat dengan konsep modern bahwa awareness adalah empowerment.
Perubahan bisa dimulai dari cara berpikir, bukan langsung dari perlawanan frontal. Menariknya, Kartini tidak menolak budaya Jawa secara total. Dia justru ingin memperbaikinya dari dalam. Itu menunjukkan bahwa gender awareness versi Kartini bersifat kontekstual, tidak radikal memutus tradisi, tetapi mengolahnya.
Kartini tidak hanya memikirkan diri sendiri, tetapi perempuan secara luas. Kesadarannyi bersifat sosial: dia ingin perubahan berlaku untuk semua perempuan, terutama yang tidak punya akses pendidikan.
Jadi, kalau konsep modern sering bicara soal equality dan rights, Kartini sudah lebih dulu menanamkan fondasi pemikirannyi: kesadaran, pendidikan, dan keberanian berpikir.
KAMUS DISWAY ALA DAHLAN ISKAN MENGAWAL KESADARAN GENDER KARTINI
Menghubungkan gender awareness ala Raden Ajeng Kartini dengan gagasan kebahasaan Dahlan Iskan, yang dituangkan dalam Kamus Disway menjadi menarik.
Dahlan Iskan terang-terangan mengajukan proposisi sufiks -nya khusus untuk kata ganti orang ketiga tunggal laki-laki dan -nyi secara khusus untuk kata ganti orang ketiga tunggal perempuan, orang yang di-EMPU-kan.
Melalui kekhususan -nya dan -nyi itu, Dahlan Iskan memberikan jawaban pada bagaimana bahasa membentuk kesadaran, termasuk kesadaran gender.
Kartini berangkat dari masalah ketidakadilan yang tidak selalu terlihat karena sudah dianggap ”normal” dalam bahasa dan budaya. Dalam surat-suratnyi (Habis Gelap Terbitlah Terang), dia berusaha ”menyadarkan”, membuat yang tak terlihat menjadi terlihat.
Sementara itu, Dahlan Iskan mengusulkan pembedaan. Selama ini -nya dalam bahasa Indonesia berlaku untuk kata ganti orang ketiga tunggal dalam gender apa saja.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: