Wisata Slow Travel, Tren Liburan Tanpa Terburu-buru yang Populer di Kalangan Gen-Z
Banten yang menjadi wilayah paling barat Pulau Jawa menyimpan 2 desa terbaik yang berhasil menyabet Anugrah Desa Wisata Indonesia (ADWI) yaitu Desa Cikolelet dan Desa Sukarame.-jadesta.kemenparekraf -
HARIAN DISWAY - Sibuk. Serba cepat. Tuntutan produktivitas seakan tidak ada habisnya. Itulah kehidupan modern saat ini.
Maka, banyak orang ingin sejenak menepi. Berwisata. Tanpa terburu-buru. Kini, sedang populer slow travel.
Berbeda dengan konsep liburan tradisional yang berusaha mengunjungi sebanyak mungkin tempat dalam waktu terbatas. Slow travel justru mendorong para wisatawan untuk berlama-lama di suatu lokasi.
Tren itu lebih menekankan pada kualitas pengalaman ketimbang jumlah destinasi yang didatangi. Itu mengubah cara pandang liburan. Dari sekadar berpindah tempat menjadi sebuah proses memahami budaya.
BACA JUGA:Wisata Mangrove Wonorejo Eco Tourism, Tempat Mancing Sekaligus Healing di Surabaya
Seperti yang terlihat di berbagai platform media sosial. Seperti TikTok dan Instagram. Gen-Z sekarang mulai menjauhi cara liburan dengan jadwal yang padat dan melelahkan. Mereka lebih suka tinggal di satu desa atau kota kecil. Selama satu hingga dua minggu.

Kampung Koboi di Desa Tugu Selatan, Cisarua, Jawa Barat.-BRI-BRI
Konsep perjalanan lambat lebih mengutamakan pengalaman berinteraksi dengan masyarakat setempat. Bahkan ikut berpartisipasi dalam aktivitas sehari-hari warga.
Seperti bercocok tanam atau membuat batik. Kemudian menggali budaya secara mendalam dengan mengambil bagian dalam upacara lokal.
Bisa menjelajahi kuliner asli dengan mencoba masakan di tempat-tempat yang tersembunyi. Kemudian mengetahui resep yang diwariskan secara turun-temurun.
BACA JUGA:Inilah Dua Spesies Anggrek Baru yang Ditemukan TNBTS di Lereng Gunung Semeru
BACA JUGA:Waduk Pacal, Peninggalan Belanda yang Tetap Mempesona di Bojonegoro
Indonesia, yang memiliki banyak desa wisata. Itu menjadi surga bagi pengunjung yang menyukai tipe perjalanan lambat.
Beragam desa wisata di Yogyakarta, misalnya. Seperti Desa Pentingsari atau Nglanggeran. Menawarkan ketenangan kehidupan pedesaan yang sangat terasa.
Di samping itu, daerah dataran tinggi di Bali Utara, seperti Munduk atau Sidemen, menjadi tempat pelarian. Khususnya bagi mereka yang ingin menjauh dari keramaian.
Pantai Lombok yang masih alami dan damai juga menjadi pilihan utama. Terutama bagi mereka yang ingin menikmati suara gelombang. Tanpa gangguan suara keras dari klub-klub di pantai.
BACA JUGA:Menemani Gebadia Albertus ke Tumpak Sewu dan Gua Tetes: Dipijat Gerojogan, Dijamu Terik Tahu Tempe
BACA JUGA:Cerita dari Rusia (3-Habis): Murah Senyum Dikira Ngobat
Di lokasi-lokasi itu, para wisatawan dapat menghabiskan waktu berjam-jam. Hanya untuk membaca buku. Atau sekadar menikmati kopi. Sambil memperhatikan panorama sawah yang luas.

Desa Sausu Tambu di pesisir Teluk Tomimi menggabungkan sektor pertanian, perikanan, hingga pariwisata untuk menggerakkan ekonomi desa-BRI -
Anda sudah tahu, faktor utama di balik populernya slow travel adalah keinginan kuat untuk melakukan digital detox. Juga mencari ketenangan mental atau mental wellness.
Gen-Z, yang sepanjang hari lekat dengan tekanan dunia maya dan kompetisi di media sosial, melihat liburan sebagai momen krusial. Momen ketika mereka benar-benar terhubung dengan diri sendiri dan alam.
Selain alasan kesehatan mental, konsep itu dinilai jauh lebih berkelanjutan. Slow travel secara langsung mendukung ekonomi lokal.
BACA JUGA:Lebih Dekat dengan Keunikan Budaya Meksiko: Frida Kahlo, Tequila, dan Pasar Loak
BACA JUGA:Merajut Kebersamaan Sambut Tahun Baru di Kebun Durian Pak Tirto
Karena turis atau wisatawan asing cenderung berbelanja di pasar tradisional. Pun, memilih menggunakan jasa pemandu lokal.
Dari sisi lingkungan, gaya perjalanan itu mengurangi jejak karbon. Karena minimnya mobilitas transportasi jarak jauh dalam waktu singkat. (*)
*) Mahasiswa magang dari Prodi Ilmu Komunikasi, Untag Surabaya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: