Militer AS Mulai Pengawalan Kapal di Selat Hormuz Lewat 'Project Freedom'

Militer AS Mulai Pengawalan Kapal di Selat Hormuz Lewat 'Project Freedom'

Kapal Destroyer kelas Arleigh Burke AS USS Mason berpatroli di Laut Arab. AS akan mulai melakukan pengawalan militer terhadap kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz mulai hari ini-US Centcom-

HARIAN DISWAYAmerika Serikat secara resmi memulai operasi pengawalan kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz pada hari Senin, sebuah langkah yang disebut Presiden Donald Trump sebagai misi kemanusiaan bernama "Project Freedom". Operasi ini diluncurkan untuk membantu ratusan kapal yang terjebak di kawasan Teluk akibat blokade dan mulai mengalami krisis pasokan logistik.

Donald Trump menegaskan bahwa prioritas utama militer adalah mengeluarkan kapal beserta awaknya dengan aman dari jalur perairan yang saat ini berada dalam kendali ketat Iran.

Langkah ini diambil setelah perundingan damai di Pakistan gagal membuahkan terobosan, sementara Iran terus menutup Selat Hormuz sebagai balasan atas serangan udara AS dan Israel yang dimulai sejak 28 Februari lalu.

BACA JUGA:Kapal Tanker Diserang Proyektil di Lepas Pantai UEA, AS Mulai Kawal Kapal di Selat Hormuz

BACA JUGA:AS Kerahkan Kapal Perang untuk Kawal Perlintasan Hormuz, Iran: Bisa Jadi Pelanggaran Gencatan Senjata


Potret Konvoy armada kapal Arleigh Burke destroyer milik angkatan laut AS-US Navy-U.S. Naval Institute Staff

Guna menjamin keamanan selama pengawalan, Komando Sentral Amerika Serikat (US CENTCOM) mengerahkan kekuatan militer besar-besaran yang terdiri dari:

  • Personel: Sebanyak 15.000 anggota layanan militer dikerahkan secara langsung dalam operasi ini.
  • Armada Laut: Penggunaan kapal perusak berpeluru kendali untuk memantau ancaman di permukaan dan bawah air.
  • Kekuatan Udara: Lebih dari 100 pesawat tempur, baik yang berbasis di darat maupun di atas kapal induk.
  • Teknologi: Penggunaan platform nirawak multi-domain untuk pengawasan real-time.

BACA JUGA:Gema di Selat Hormuz, Getaran di Nusantara: Menakar Dampak Eksistensial Agresi terhadap Iran bagi Indonesia

BACA JUGA:Nilai Strategis Selat Hormuz bagi Iran dan Negara Teluk

Per 29 April, tercatat masih ada lebih dari 900 kapal komersial yang berada di kawasan Teluk. Kehadiran militer AS ini diharapkan dapat memberikan jalur aman bagi kapal-kapal tersebut, meskipun Iran telah memberikan peringatan keras bahwa campur tangan Amerika dalam rezim maritim di Selat Hormuz akan dianggap sebagai pelanggaran serius terhadap gencatan senjata yang telah berlaku sejak 8 April.(*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: