Elegi Bajak Selat
ILUSTRASI Elegi Bajak Selat.-Arya/AI-Harian Disway -
MSC, perusahaan kontainer terbesar di planet ini, memilih diam. Dua kapalnya disita. Puluhan krunya disandera. Tidak ada pernyataan pers. Hanya sunyi yang memekakkan.
Di dunia yang terbelah ini, raksasa pun harus memilih: kehilangan pasar Iran atau kehilangan pasar Amerika Serikat? Tidak bisa memilih, mereka memilih untuk tidak bersuara, membeku seperti karakter latar yang tidak diberi dialog oleh Oda.
Besok pagi matahari akan terbit lagi di atas Pantai Sanur. Para turis mungkin masih akan berjemur, mereka paham bahwa di selat kecil jauh nun di sana, pupuk dunia terlambat berlayar, gandum tertahan di pelabuhan, jutaan petani dari Jawa hingga Afrika akan segera bertanya-tanya kenapa harga beras naik tanpa alasan yang mereka mengerti.
Seorang mahasiswa saya pernah bertanya, ”Pak, kenapa sih dunia ini makin gila?”
”Dunia tidak makin gila… Cuma bajak selatnya yang makin banyak. Bedanya, bajak laut di manga kita baca pakai topi jerami. Yang di dunia nyata pakai seragam perang.”
Ia tertawa. Lalu, berhenti. Matanya membulat ketika menyadari saya tidak sedang bercanda.
Ini elegi untuk laut yang kehilangan hukumnya. Selamat tidur, mare liberum yang akhirnya mati di usia empat ratus tahun.
Dunia yang dulu sopan kini hanya tinggal kenangan, terkubur di bawah tuas kapal perang, di selat sempit tempat para bajak selat saling mengacungkan jari sambil berteriak, ”kaulah bajak laut sebenarnya!”
Saya mematikan laptop, memandang laut lewat jendela. Ombak masih memecah di kejauhan, ritmis, tak teratur. Mungkin esok lusa Selat Hormuz benar-benar mati. Mungkin kapal-kapal memilih rute lain, memutar Afrika, menambah dua minggu perjalanan.
Perdagangan dunia akan merangkak. Harga-harga akan meroket. Sejarah akan mencatat itu sebagai bab di mana manusia kembali ke hukum tertua: siapa kuat, dia yang benar.
Tapi, malam ini, di Sanur, ombak masih sama. Ia tidak memilih pihak. Ia hanya terus berdetak, mengingatkan bahwa di bawah semua teriakan dan tembakan, di bawah bendera dan seragam, ada sesuatu yang jauh lebih tua daripada negara mana pun.
Laut bukan warisan kita. Kita cuma menumpang, menyewa waktu, mencicipi kebebasan yang sebenarnya tidak pernah terbayar lunas. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: