Elegi Bajak Selat

Elegi Bajak Selat

ILUSTRASI Elegi Bajak Selat.-Arya/AI-Harian Disway -

MALAM di Bali turun dengan cara yang selalu sama. Angin berbisik di sela dedaunan. Ombak pecah di karang seperti detak jantung yang tak pernah lelah. Namun, malam itu, 22 April 2026, angin tersebut membawa sesuatu yang lain. 

Ia membawa kabar dari sepotong air sempit di ujung lain benua, tempat dunia baru saja kehilangan akal sehatnya untuk kali kesekian.

Saya berdiri di tepi Pantai Sanur, memandang ke barat laut, membayangkan Selat Hormuz. Dua puluh satu mil air yang dulu adalah jalan raya dunia. Kini ia menjadi panggung bagi drama yang bahkan para dewa Yunani akan menolak untuk menulisnya.

Dini hari pukul 03:55 UTC. Sebuah kapal bernama Epaminondas berlayar dalam gelap. Namanya diambil dari jenderal Thebes, seorang pejuang yang mati dalam kemenangan. Ironis. Epaminondas abad ke-21 itu sekarat dalam kebingungan, lima belas mil dari pantai Oman, jembatannya hancur diterjang peluru.

BACA JUGA:Menjaga Nadi Digital di Selat Hormuz: Mengantisipasi 'Kiamat' Internet Global

BACA JUGA:Selat Hormuz, Celah Sempit yang Menentukan Geopolitik Rantai Pasok Energi Dunia

Dua puluh satu pelaut Ukraina dan Filipina di atas kapal itu bukan tentara. Mereka buruh yang mengirimkan uang kepada keluarga setiap akhir bulan. Pagi itu mereka dibangunkan oleh dentuman. 

Serpihan kaca beterbangan. IRGC Navy tidak repot-repot memanggil melalui radio. Hanya tembakan. Langsung ke jembatan. Langsung ke jantung kapal.

Di sanalah One Piece terasa nyata. Bedanya, Luffy berteriak ”aku akan menjadi raja bajak laut” dengan senyum lebar, melindungi yang lemah, melawan tirani. 

IRGC? Mereka berteriak ”haml” sambil menodongkan senapan ke kapal dagang tak bersenjata. Bajak laut di manga Oda punya kode etik. Yang di Hormuz hanya punya daftar tarif selangit.

BACA JUGA:Trump Perintahkan Tembak di Tempat Kapal Pemasang Ranjau di Selat Hormuz

BACA JUGA:Gencatan Senjata Diperpanjang, Iran Tetap Akan Blokir Selat Hormuz

MSC Francesca menyusul jadi korban. Kapal itu sudah berhari-hari mematikan transpondernya, mencoba menyelinap seperti ninja di antara gelombang. Keberuntungannya habis. IRGC menangkapnya, menyeretnya ke Sirik, pelabuhan kecil di pantai selatan Iran yang bahkan Google Maps butuh waktu untuk menemukannya. 

Kapal ketiga, Euphoria, namanya berarti kegembiraan, berakhir kandas, ditembaki, tergeletak seperti paus yang mati di tepi pantai.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: