Bergantung Bahan Baku Impor, Harga Plastik Terus Naik, Pemerintah Sarankan Kemasan Aseptik

Bergantung Bahan Baku Impor, Harga Plastik Terus Naik, Pemerintah Sarankan Kemasan Aseptik

CUP sekali pakai yang menjadi kemasan andalan penjual minuman juga terimbas kenaikan harga biji plastik.-Boy Slamet-Harian Disway

HARIAN DISWAY - Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), utamanya pedagang, masih dipusingkan harga plastik yang meroket sejak Maret. Tak adanya solusi, memaksa mereka menaikkan harga jual karena hampir semua produk mereka, khususnya kuliner, menggunakan plastik sebagai kemasannya. 

"Sebelumnya per pack Rp22 ribu. Tapi, tiba-tiba naik jadi Rp32 ribu per pack," keluh Didit, pedagang salad di Sidoarjo. Yang ia keluhkan kepada Harian Disway saat ditemui Jumat, 24 April 2026, itu adalah thinwall.

Kemasan plastik itu esensial dalam usahanya. Sebab, salad buatannya selalu dikemas dalam thinwall sebelum didistribusikan kepada pembeli. Sejak awal Maret, ia terpaksa merogoh kocek lebih dalam untuk membeli wadah saladnya.

Karena harganya tak juga turun, ia pun terpaksa menaikkan harga produknya. Salad yang dibanderol Rp15 ribu, Didit naikkan Rp1.000 per kemasan. "Harus saya naikkan karena ongkos produksinya juga naik," katanya. 

BACA JUGA:Kenaikan Harga Plastik Tekan UMKM, Pemprov Dorong Penggunaan Kemasan Alternatif

BACA JUGA:Harga Plastik Naik Imbas Konflik Timur Tengah, Purbaya: Belum Ada Permintaan Relaksasi

Kepala Bidang Pengembangan Perdagangan Luar Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Timur, Erivina Lucky Kristian, mengatakan bahwa harga biji plastik memang naik hingga 50 persen sejak Maret lalu. Per 22 April 2026, kenaikannya bahkan mencapai 68 persen. 

Kenaikan bahan baku plastik itulah yang membuat harga plastik di pasaran melambung. Para pedagang di Surabaya melaporkan kenaikan harga plastik pada kisaran 30–70 persen. 

Di tengah kenaikan harga, beberapa jenis plastik bahkan mulai sulit ditemukan di pasaran. Antara lain, plastik jenis PP, HD, dan PE. "Termasuk gelas cup plastik, plastik lid, tas kresek, dan plastik kemasan berbagai ukuran," kata Lucky. 

Jatim punya 427 industri plastik dan barang dari plastik, yang terkonsentrasi di wilayah Sidoarjo, Surabaya, dan Gresik. Sebanyak 298 unit di antaranya berskala IKM/UKM, dan 129 lainnya industri skala besar. Mereka semua juga terdampak harga biji plastik. Sebab, 50-60 persen bahan bakunya masih impor. 

BACA JUGA:Industri Plastik Tertekan! Harga Bahan Baku Melonjak Imbas Krisis Timur Tengah

BACA JUGA:Siswa SMKN 5 Surabaya Sulap Botol Plastik Bekas Jadi Penyangga Ponsel dan Pengatur Kabel Estetik


BOTOL PLASTIK yang juga menjadi bagian dari produksi skala kecil UMKM harganya ikut naik.-Boy Slamet-Harian Disway

Sementara itu, Founder & Chairman Supply Chain Indonesia (SCI) Setijadi menyebut kenaikan harga plastik itu sebagai dampak gangguan rantai pasok global. Imbasnya mulai terasa pada bahan baku industri (non-energi) di Indonesia. 

Indonesia menjadi rentan karena lebih dari 70 persen kebutuhan bahan baku industri nasional dipasok dari luar negeri. Terutama, untuk sektor kimia, petrokimia, dan manufaktur berbasis material. Ketika pasokan global terganggu, industri domestik menghadapi risiko keterlambatan bahan baku, penurunan kapasitas produksi, serta peningkatan biaya input.

SCI melihat bahwa gangguan tersebut bersifat multi-material shortage. Dampaknya tidak hanya pada harga, tetapi juga pada ketersediaan fisik material, yang berpotensi menekan utilisasi pabrik dan mengganggu kontinuitas produksi. 

"Dalam jangka pendek, kondisi ini dapat memicu efek berantai berupa peningkatan lead time, kenaikan biaya produksi, serta tekanan terhadap harga produk di pasar," terangnya. 

BACA JUGA:Gen Z Jatim Desak Perda Plastik Sekali Pakai, Sungai Brantas Tercemar, Regulasi Dinilai Setengah Hati

BACA JUGA:Gerakan Peduli Lingkungan, Dindik Jatim Wajibkan Sekolah Zero Sampah Plastik

Sementara itu, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mendorong penggunaan kemasan nonplastik. Terutama, yang berbasis kertas atau paperboard. Kemasan jenis itu cukup kompetitif dan porsinya juga cukup besar. Yakni, sekitar 28 persen dari total kemasan industri makanan dan minuman secara nasional. 

"Kami berkomitmen untuk terus memacu pengembangan alternatif bahan baku kemasan melalui skema business matching antara produsen dan pengguna," ungkapnya dalam keterangan media Jumat. 

Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau dan Bahan Penyegar Merriyanti Punguan Pintaria juga mendorong industri minuman dalam negeri terus berinovasi dan beradaptasi. Salah satu caranya adalah lewat penggunaan kemasan berbahan aseptik atau kertas. 

Saat ini, kebutuhan nasional akan kemasan aseptik mencapai sekitar 8,3 miliar kemasan per tahun. Dengan sekitar 4,8 miliar diantaranya berasal dari segmen susu dan produk dairy, serta sisanya dari minuman berbasis teh dan kopi.  


GAYA HIDUP modern berkontribusi tinggi pada ketergantungan masyarakat terhadap kemasan sekali pakai.-Filirovska-Pexels

BACA JUGA:Dilema Plastic Credit di Indonesia, Solusi Sampah Plastik Belum Maksimal Atasi Pencemaran Lingkungan

BACA JUGA:Ekspedisi Run for Rivers dari Bali ke Jakarta, Sungai Watch Singgah di Surabaya Ajak Tekan Sampah Plastik

Sebagai produsen kemasan aseptik pertama di Indonesia, LamiPak memiliki kapasitas produksi hingga 21 miliar kemasan per tahun, atau setara hampir tiga kali lipat kebutuhan nasional. 

"Itu mampu mendukung pasokan domestik yang lebih stabil sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor," terangnya. (*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: