Mobil Nasional: Jalan Berdikari ala Presiden Prabowo

Mobil Nasional: Jalan Berdikari ala Presiden Prabowo

ILUSTRASI Mobil Nasional: Jalan Berdikari ala Presiden Prabowo.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -

INDONESIA telah lama menjadi pasar besar otomotif dunia, tetapi belum sepenuhnya menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Jalanan nasional dipenuhi kendaraan dari berbagai merek global, sedangkan kemampuan industri domestik belum dominan dalam proses produksi, penguasaan teknologi, dan penciptaan nilai ekonomi. 

Dalam konteks itulah, gagasan mobil nasional yang kembali diangkat Presiden Prabowo Subianto menjadi makin penting: bukan sekadar proyek industri, melainkan strategi besar menuju kemandirian ekonomi.

Sebagaimana tecermin dalam bukunya, Paradoks Indonesia, Prabowo menyoroti ironi Indonesia sebagai negara kaya sumber daya yang belum sepenuhnya mampu mengelola potensinya secara mandiri. Mobil nasional menjadi simbol sekaligus instrumen untuk keluar dari paradoks tersebut. 

BACA JUGA:Insentif Mobil Listrik Tak Diperpanjang, Anggaran Dialihkan ke Program Mobil Nasional

BACA JUGA:Prabowo Janji Indonesia Produksi Mobil Nasional dalam Tiga Tahun

Gagasan itu sejalan dengan konsep Trisakti yang diwariskan Soekarno, khususnya prinsip berdikari di bidang ekonomi –sebuah cita-cita yang tetap relevan di tengah kompetisi global yang kian kompleks.

PASAR BESAR, NILAI TAMBAH BELUM DIKUASAI

Besarnya potensi sektor otomotif Indonesia tidak dapat dipandang sebelah mata. Data Gaikindo menunjukkan bahwa penjualan mobil nasional dalam periode 2023–2025 berada pada kisaran 800.000 hingga 900.000 unit per tahun. 

Dengan harga rata-rata kendaraan yang mencapai ratusan juta rupiah, nilai transaksi sektor itu menyentuh ratusan triliun rupiah setiap tahun. Di luar itu, industri otomotif memiliki efek ganda yang luas, menggerakkan sektor baja, elektronik, logistik, hingga usaha kecil dan menengah.

Namun, besarnya pasar tersebut belum berbanding lurus dengan penguasaan nilai tambah di dalam negeri. 

BACA JUGA:Prabowo Gunakan Mobil Nasional Maung Buatan Anak Negeri

Dominasi produsen global seperti Toyota, Honda, Suzuki, Hyundai, dan Wuling serta kehadiran merek Eropa seperti BMW dan Mercedes-Benz, hingga produsen Amerika seperti Ford dan Tesla, menunjukkan bahwa sebagian besar keuntungan ekonomi masih mengalir ke luar negeri. 

Indonesia pun tetap berada di posisi sebagai pasar utama, bukan pusat produksi dan inovasi.

Dalam perspektif Trisakti, kondisi itu mencerminkan pekerjaan rumah yang belum selesai. Kemandirian ekonomi tidak hanya diukur dari besarnya konsumsi, tetapi dari kemampuan menguasai produksi dan inovasi. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: