Kampus Berdampak Berbasis Riset: Akselerasi Menuju Kemandirian Perti

Kampus Berdampak Berbasis Riset: Akselerasi Menuju Kemandirian Perti

ILUSTRASI Kampus Berdampak Berbasis Riset: Akselerasi Menuju Kemandirian Perti.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -

Konsep redenominasi uang rupiah bisa diadopsi dari kebiasaan transaksi yang dilakukan orang-orang Madura. Transaksi di pasar tradisional dengan cara penyebutan angka-angka transaksi harian dari jutaan rupiah ke dalam ribuan. 

Misalnya, dalam jual beli seekor sapi seharga 20 juta rupiah disebut dengan angka 20 ribu rupiah. Artinya, penyederhanaan penyebutan mata uang sudah terbiasa dilakukan masyarakat Madura. 

Konsep redenominasi rupiah dipelajari dari pola transaksi masyarakat Madura itu sudah dilakukan dalam praktik dan barangkali kebijakan itu bisa diimplementasikan dalam waktu yang tidak lama.

Kondisi itu menegaskan pentingnya arah riset yang tidak hanya berbasis potensi lokal, tetapi juga terhubung dengan hilirisasi dan ekosistem industri. Hilirisasi menjadi kunci ikhtiar menuju kampus mandiri.

MENUJU KEMANDIRIAN MELALUI PNBP

Kemandirian perguruan tinggi tidak dapat dilepaskan dari kemampuan menghasilkan pendapatan mandiri. Dalam konteks kampus berdampak, pendapatan pribadi idealnya bersumber dari hilirisasi hasil riset.

Skema seperti riset kolaboratif dengan industri, lisensi teknologi, konsultasi akademik, dan pengembangan startup berbasis kampus perlu diperkuat. Di Madura, misalnya, perguruan tinggi dapat berperan sebagai motor pengembangan industri pakan ternak berbasis jagung atau peningkatan kualitas dan standardisasi garam.

Dengan demikian, riset tidak hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga nilai ekonomi yang berkontribusi pada kemandirian institusi. Riset berdampak sekaligus akan menguatkan pengakuan perti di hadapan dunia usaha, industri, dan masyarakat.

DAMPAK SEBAGAI UKURAN KINERJA

Kampus berdampak berbasis riset harus diukur berdasar hasil nyata yang dihasilkan. Dampak tersebut mencakup berbagai dimensi.

Bagi mahasiswa, keterlibatan dalam riset meningkatkan kompetensi dan kesiapan kerja. Bagi dosen, produktivitas riset dan inovasi meningkatkan kualitas akademik sekaligus membuka peluang ekonomi. 

Bagi masyarakat, implementasi teknologi mendorong peningkatan kesejahteraan. Sementara itu, bagi daerah, kontribusi perguruan tinggi memperkuat pembangunan berbasis pengetahuan. 

Bagi masyarakat, kontribusi perti bisa langsung dirasakan masyarakat untuk memperbaiki dan menemukan solusi.

Dengan demikian, indikator kinerja perguruan tinggi perlu bergeser dari sekadar aktivitas menuju dampak yang terukur.

MENUTUP KESENJANGAN ANTARA KAMPUS DAN REALITAS

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: