PKKMB: Adaptasi dan Penguatan Learning Society

PKKMB: Adaptasi dan Penguatan Learning Society

ILUSTRASI PKKMB: Adaptasi dan Penguatan Learning Society-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

FASE belajar di perguruan tinggi memiliki perbedaan yang signifikan jika dibandingkan dengan bangku sekolah menengah atas. Calon mahasiswa baru (maba) harus memiliki kemampuan adaptasi untuk bisa meyesuaikan diri dengan atmosfer, iklim, dan budaya pendidikan tinggi

Maba dihadapkan pada perubahan cara belajar, lingkungan sosial yang lebih beragam, tuntutan berpikir kritis, hingga perkembangan teknologi yang bergerak sangat cepat.

Pengenalan kehidupan kampus bagi mahasiswa baru (PKKMB) semestinya tidak dipahami sebagai kegiatan seremonial tahunan nirmakna. Namun, harus djadikan sebagai fondasi pembentukan karakter, motivasi, dan kapasitas adaptif mahasiswa untuk menjadi learning society sejati. 

PKKMB dengan demikian harus bisa dijauhkan dari praktik yang membuat mahasiswa memiliki deorientasi belajar dan demotivasi belajar mandiri.

BACA JUGA:Unair Tutup Gelaran PKKMB dengan Tanam Pohon Buah

BACA JUGA:Cara UNTAG Tampilkan Bhineka Tunggal Ika di Pembukaan PKKMB

Pembelajar sejati dicirikan oleh semangat belajar yang terus membara dan tiada henti (berkelanjutan). Mereka adalah pembelajar yang memiliki rasa ingin tahu (curiosity) yang tinggi serta memiliki ketahanan untuk belajar berkelanjutan sebagai calon ilmuwan. Learning society menempatkan belajar sebagai proses yang berlangsung sepanjang hayat, tidak berhenti di ruang kelas. 

Peter Senge (1990) menegaskan bahwa individu dan organisasi yang mampu terus belajar akan lebih adaptif menghadapi perubahan.

Sementara itu, Alvin Toffler (1970) sejak lama telah mengingatkan bahwa tantangan abad ke-21 bukan sekadar baca-tulis, melainkan ketidakmampuan untuk terus belajar, melepaskan kebiasaan lama, dan mempelajari hal-hal baru. 

Dalam konteks tersebut, mahasiswa baru perlu memaknai masa transisi ke perguruan tinggi sebagai pintu masuk menjadi pembelajar mandiri yang memiliki rasa ingin tahu tinggi, terbuka terhadap gagasan baru, kritis dalam berpikir, serta aktif membangun jejaring kolaborasi. 

Dalam konteks ini, maba tidak cukup hanya mengejar indeks prestasi, tetapi juga harus mengembangkan keterampilan berpikir analitis, literasi digital, kemampuan berkomunikasi, kepemimpinan, dan kepekaan sosial agar mampu beradaptasi dengan perubahan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebutuhan masyarakat. 

Dengan semangat learning society, mahasiswa baru diharapkan tumbuh menjadi insan pembelajar yang tidak hanya siap menghadapi masa depan, tetapi juga mampu menciptakan perubahan dan menghadirkan dampak nyata bagi lingkungan, bangsa, dan kemanusiaan.

Era disrupsi digital dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) juga telah mengubah lanskap pendidikan tinggi. Pengetahuan tidak lagi menjadi sumber keunggulan utama karena informasi tersedia secara melimpah. 

Yang kian dibutuhkan saat ini dan ke depan adalah kemampuan belajar sepanjang hayat (lifelong learning), berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, komunikasi, serta kemampuan beradaptasi terhadap perubahan. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: