Nilai Strategis Selat Hormuz bagi Iran dan Negara Teluk
ILUSTRASI Nilai Strategis Selat Hormuz bagi Iran dan Negara Teluk.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -
Saat ini Selat Hormuz menjadi jalur paling penting perdagangan minyak dunia karena menjadi satu-satunya jalur untuk mengirimkan minyak dari Teluk ke wilayah lain khususnya ke Asia.
Hampir 20 persen minyak dunia dan sepertiga pasokan LNG (gas alam cair) dikirimkan lewat Selat Hormuz. Dan, Selat Hormuz menjadi selat paling sibuk di dunia, tetapi menjadi selat paling rentan karena membentang di sepanjang wilayah Timur Tengah yang sering bergejolak.
Negara-negara Teluk yang menjadi produsen minyak mentah terbesar dunia seperti Arab Saudi, Iran, Irak, Qatar, Uni Emirat Arab, Bahrain, Kuwait, dan Oman memiliki kepentingan yang sangat besar atas Selat Hormuz untuk memperlancar pengiriman minyak mentah ke pasar ekspor.
BACA JUGA:Gencatan Senjata Diperpanjang, Iran Tetap Akan Blokir Selat Hormuz
BACA JUGA:Tak Hanya Selat Hormuz, Ini 5 Jalur Minyak Paling Krusial Dunia, Ada Selat Malaka!
IRAN DAN SELAT HORMUZ
Di kawasan Teluk, Arab Saudi merupakan pengekspor minyak terbesar di dunia yang menyimpan 18 persen dari total cadangan minyak dunia. Sektor minyak dan gas negara itu menyumbang sekitar 50 persen dari produk domestik bruto (PDB) dan 70 persen dari pendapatan ekspor.
Selain minyak, Saudi juga kaya akan sumber daya alam lainnya seperti gas alam, emas, bijih besi, dan tembaga. Pada 2018, total ekspor Arab Saudi mencapai sekitar USD235 miliar, di mana USD195 miliar dari nilai ekspor tersebut diperoleh hanya dari ekspor minyak.
Negara kaya minyak kedua di Teluk adalah Iran. Negara itu tidak hanya memiliki minyak bumi, tetapi juga sumber daya alam lainnya seperti gas alam, kromium, tembaga, mangan, batu bara, bijih besi, timbal, belerang, dan zinc. Sayang, Iran tidak bisa menjadi negara kaya raya seperti Arab Saudi dan negara Teluk lain yang juga menjadi produsen minyak.
Terlepas dari sanksi ekonomi yang dialami Iran, tahun 2018 total volume ekspor minyak mentah Iran mencapai kurang lebih USD107,435 miliar dan USD60,198 miliar diperoleh dari ekspor minyak.
Mengingat posisi strategis Selat Hormuz bagi Iran di tengah blokade dan sanksi ekonomi dari AS dan negara-negara Barat lainnya, Iran tidak akan pernah melepaskan kendali atas Selat Hormuz.
Karena itu, dalam negosiasi damai dengan AS dan Israel, Iran akan membuka lalu lintas di Selat Hormuz dengan jaminan keamanan wilayah negara Iran serta dibukanya blokade serta sanksi ekonomi dari AS dan negara-negara Barat.
Namun, ketika poin itu sedang dinegosiasikan, AS melakukan blokade sepihak atas kapal-kapal Iran yang akan melintas di Selat Hormuz. Dan, Israel sebagai sekutu AS dan menjadi salah satu aktor negara yang berada di pusat konflik kembali melakukan agresi militer di Lebanon, Jalur Gaza, dan Tepi Barat Palestina.
Setelah hampir dua pekan bernegosiasi, peluang tercapainya kesepakatan damai kembali menemui jalan buntu.
BLOKADE AS
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: