Krisis Keamanan Daycare: Antara Kebutuhan dan Kelalaian Sistem
ILUSTRASI Krisis Keamanan Daycare: Antara Kebutuhan dan Kelalaian Sistem.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -
Ketika keluarga tidak mampu menyediakan pengasuhan sepanjang waktu, daycare menjadi bagian dari mikrosistem yang berperan langsung dalam perkembangan anak. Artinya, daycare bukan hanya ”tempat menitipkan anak”, melainkan juga lingkungan perkembangan yang signifikan.
Selain itu, dalam kondisi ideal, daycare juga menawarkan nilai tambah berupa stimulasi perkembangan anak. Program yang terstruktur, interaksi sosial dengan teman sebaya, serta aktivitas edukatif dapat mendukung perkembangan kognitif dan sosial-emosional anak (Papalia & Martorell, 2021).
BACA JUGA:Fakta Daycare Little Aresha Jogja, Izin Bodong, Anak Asuh Alami Luka hingga Trauma
Itulah yang membuat sebagian orang tua tidak hanya ”membutuhkan” daycare, tetapi juga mengandalkannya sebagai bagian dari proses tumbuh kembang anak.
Namun, penting untuk dicatat bahwa perubahan dari ”pilihan” menjadi ”kebutuhan” itu juga membawa konsekuensi serius. Ketergantungan yang tinggi terhadap daycare tidak selalu diimbangi dengan jaminan kualitas dan keamanan.
Ketika daycare menjadi kebutuhan struktural, orang tua sering kali tidak memiliki banyak alternatif, bahkan ketika kualitas layanan diragukan. Dalam situasi seperti itu, posisi tawar orang tua menjadi lemah, sedangkan risiko terhadap anak meningkat.
Dengan demikian, pernyataan tersebut tidak hanya menggambarkan realitas sosial, tetapi juga mengandung kritik implisit terhadap sistem yang belum sepenuhnya siap. Daycare telah menjadi bagian integral dari kehidupan modern, tetapi regulasi, pengawasan, dan standardisasinya belum berkembang secepat kebutuhan masyarakat.
BACA JUGA:Kasus Daycaren Little Aresha Jogja, Pemkot Buka Posko Pengaduan, Pendampingan Korban Dipercepat
BACA JUGA:Ini Pengakuan Orang Tua Korban Daycare Little Aresha Jogja, Duga Ada Perlakuan Tak Manusiawi
Di sanalah letak urgensi untuk memastikan bahwa ”kebutuhan” itu benar-benar diimbangi dengan jaminan keamanan dan kualitas pengasuhan yang layak bagi anak.
POLA KEKERASAN YANG BERSIFAT SISTEMIK
Pada kasus yang terjadi belakangan, kita melihat bahwa kekerasan pada anak mengemuka dalam bentuk tindakan fisik seperti pengikatan dan perlakuan yang mengabaikan kebutuhan dasar anak.
Dalam kajian psikologi, bentuk-bentuk itu termasuk dalam kategori child maltreatment, yaitu perlakuan yang mengancam kesejahteraan fisik maupun psikologis anak (Papalia & Martorell, 2021).
Praktik tersebut sangat mengkhawatirkan karena dilakukan secara berulang dan melibatkan banyak pengasuh sehingga mengarah pada pola kekerasan sistemik.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: