Pameran Seni Rupa JAMAN SEMONO, Ajang Nostalgia Alumni PGRI Adi Buana Surabaya

Pameran Seni Rupa JAMAN SEMONO, Ajang Nostalgia Alumni PGRI Adi Buana Surabaya

Karya Budi Ipeng bertema “kebanyakan maling” dipamerkan di Galeri Prabangkara, Surabaya, Minggu (4/5/2026).-Tri Yoga Arya-Harian Disway

SURABAYA, HARIAN DISWAY - Kelompok perupa YANG ADA, alumnus Seni Rupa Universitas PGRI Adi Buana SURABAYA, menggelar pameran lukisan bertajuk JAMAN SEMONO.

Pameran berlangsung di Galeri Prabangkara, UPT Taman Budaya Jawa Timur, Surabaya. Diselenggarakan selama 7 hari, 3-9 Mei 2026.

Sebanyak 25 karya dari 15 perupa disajikan. Pameran itu terbuka untuk umum secara gratis setiap hari. Yakni pada pukul 11.00 hingga 17.00 WIB.

Uuk, salah seorang perupa, mendampingi Harian Disway berkeliling. Meninjau dua ruang pameran di lantai 2 yang dipenuhi karya dengan beragam gaya dan medium.

BACA JUGA:Perupa GEPRAK Gelar Pameran Lukisan, Tafsirkan Makna Taqwa dalam Berbagai Karya

BACA JUGA:Pesta Rupa Arisan: Bangun Perspektif Anak Muda tentang Seni melalui Lukisan

Dalam penjelasannya, tema JAMAN SEMONO berangkat dari cerita-cerita lama para alumnus. Terutama saat masih menjadi mahasiswa.

Menurutnya, tema itu awalnya muncul dari guyonan di antara para perupa. Hingga kemudian berkembang menjadi gagasan pameran.

"Pameran ini mengingatkan kami tentang masa lalu. Waktu mahasiswa dulu. Sedang nakal-nakalnya. Tapi itu bagian dari proses,” ujarnya.

Salah satu karya yang paling merepresentasikan tema tersebut adalah milik Budi Ipeng. Karyanya menampilkan kertas-kertas berserakan di sekitar tangga kayu asli yang disandarkan pada lukisan.

BACA JUGA:Kajian Historis dan Simbolis oleh Analis tentang Lukisan Berobjek Paus yang Bernilai Rp 34 Miliar

BACA JUGA:Pameran Tunggal Welldo Wnophringgo, Pajang 28 Lukisan Bertema Tubuh-Tubuh Spiritual

Di sampingnya, terdapat visual pada medium triplek dengan tulisan Bukan Miskin, Malingnya Kebanyakan. Serta gambar jendela yang menampilkan kursi di dalamnya.

Karya itu merujuk pada pengalaman mahasiswa seni rupa yang mencuri kursi kampus. Kursi itu kemudian dijual demi memenuhi kebutuhan berkarya. Seperti membeli cat dan bahan lukisan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: