Victory Day dan Kemerdekaan RI: Cara Membaca Persahabatan Indonesia-Rusia
ILUSTRASI Victory Day dan Kemerdekaan RI: Cara Membaca Persahabatan Indonesia-Rusia.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -
Terbentuklah pemerintahan republik dan badan-badan kekuasaan lainnya. Presiden republik adalah Soekarno dan wakil presiden adalah M. Hatta –keduanya diakui sebagai pemimpin gerakan pembebasan nasional.
Pasca memprolamasikan kemerdekaan, Indonesia mendapatkan ujian untuk bagaimana cara mempertahankan kemerdekaan. Pihak berwenang Belanda tidak mengakui kemerdekaan koloni mereka.
Fakta bahwa proklamasi kemerdekaan terjadi dalam situasi pendudukan Jepang yang masih berlangsung –sebelum penyerahan formal Jepang yang baru terjadi pada 2 September 1945– dimanfaatkan propaganda Belanda untuk mendiskreditkan negara muda Indonesia.
Republik Indonesia disebut sebagai ”hasil bentukan fasisme Jepang”, sedangkan Soekarno dan Hatta, yang memimpin perjuangan pembebasan baik pada masa kekuasaan kolonial Belanda maupun selama pendudukan Jepang, dicap sebagai kolaborator dan kaki tangan para penjajah.
Pasukan sekutu dalam koalisi antifasis –terutama satuan Inggris– mulai mendarat di Indonesia pada akhir September 1945. Tugas mereka adalah melucuti senjata serta memulangkan (repatriasi) pasukan Jepang.
Namun, bahkan sejak Agustus 1945, telah ditandatangani perjanjian antara Inggris dan Belanda, yang isinya mewajibkan pasukan Inggris menyerahkan kendali atas kepulauan kepada pemerintahan kolonial Hindia Belanda.
Tak lama kemudian, unit-unit Belanda mulai berdatangan ke pulau-pulau Indonesia dan administrasi kolonial Hindia Belanda kembali dari Australia ke Jakarta.
Terjadilah bentrokan bersenjata antara unit-unit Belanda dan kelompok-kelompok pejuang Indonesia. Pasukan Inggris-Belanda menduduki kota-kota besar dan pelabuhan-pelabuhan di Jawa, Sumatera, dan pulau-pulau lain. Di bawah kendali republik hanya tersisa wilayah-wilayah pedalaman di Jawa bagian Tengah dan Timur.
Kemenangan Uni Soviet dalam Perang Dunia II, berubahnya Uni Soviet menjadi pusat kekuatan dunia, serta sikap antikolonial yang konsisten dari negara Soviet menjadi alasan mengapa harapan para bangsa yang berjuang melawan perbudakan kolonial mulai dikaitkan dengan dukungan dari Uni Soviet. Salah satu yang paling awal dalam rangkaian tersebut adalah Republik Indonesia.
Sejak akhir 1945, dalam media ilmiah dan politik Soviet, gerakan pembebasan nasional di Indonesia makin sering mendapatkan dukungan. Jika pada awalnya negara itu masih disebut Hindia Timur Belanda, dalam pemberitaan berikutnya tentang perang kolonial pasukan Inggris-Belanda melawan rakyat Indonesia, negara itu sudah disebut Indonesia.
Mulai 4 November 1945, surat kabar Pravda mulai mengecam kebijakan prokolonial Amerika Serikat, Inggris, dan Belanda di Indonesia. Sejak saat itu, pers Soviet secara rutin mengkritik kebijakan negara-negara Barat di Indonesia dari posisi antikolonial.
Banyak bukti sejarah lebih lanjut yang menuliskan rangkaian bukti bagaimana hubungan baiknya persahabatan antara Uni Soviet dan Indonesia yang baru merdeka. Peninggalan Uni Soviet di Indonesia pada era 1960-an, terutama masa pemerintahan Presiden Soekarno, mencakup infrastruktur monumental dan militer.
Peninggalan utama meliputi Stadion Utama Gelora Bung Karno, Rumah Sakit Persahabatan, Patung Pahlawan (Tugu Tani), proyek perumahan di Kalimantan Selatan, dan patung Yuri Gagarin.
Sejarah memberikan pelajaran yang berharga terkait kuatnya hubungan antara Uni Soviet dan Indonesia. Bagaimana kemenangan Uni Soviet bisa menjadi momentum Indonesia mencapai kemerdekaan di kemudian hari.
Kemenangan yang bisa dinikmati bersama, dilanjutkan baiknya hubungan Uni Soviet dan Indonesia. Persahabatan yang baik Indonesia dengan Uni Soviet diwariskan kepada Rusia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: