Victory Day dan Kemerdekaan RI: Cara Membaca Persahabatan Indonesia-Rusia
ILUSTRASI Victory Day dan Kemerdekaan RI: Cara Membaca Persahabatan Indonesia-Rusia.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -
SETIAP negara mempunyai bulan istimewa berdasar kisah sejarah yang dimiliki. Agustus adalah bulan istimewa bagi Indonesia karena di bulan itu proklamasi kemerdekaan Indonesia dibacakan Soekarno dan Hatta.
Sementara itu, Rusia dan beberapa negara eks Uni Soviet mempunyai bulan yang bersejarah bagi mereka. Tepatnya tiap tanggal 9 Mei, diperingati sebagai Victory Day atau hari kemenangan bagi rakyat Uni Soviet atas Nazi Jerman pada Perang Dunia II.
Tahun 2025 saya melihat langsung dari saluran YouTube parade militer digelar di Kremlin, Moskow, Rusia untuk memperingati Victory Day Ke-80. Parade militer tersebut tentu dihadiri para pimpinan negara, termasuk Vladimir Putin selaku presiden Rusia, pimpinan negara eks Uni Soviet, dan tamu istimewa Presiden Tiongkok Xi Jinping.
Kemenangan besar Uni Soviet atas Nazi Jerman merupakan peristiwa sejarah penting karena di situlah titik krusial keruntuhan dari aliansi poros militer Berlin, Roma, dan Tokyo. Kekuatan pemimpin Uni Soviet, pasukan merah, rakyat, dan alam pada saat itu menggagalkan ambisi Hitler untuk menguasai Eropa Timur dan kemudian mengubur mimpi aliansi militer tersebut untuk menguasai dunia.
BACA JUGA:Menlu Iran Temui Putin di Rusia, Perundingan dengan AS Masih Menggantung
BACA JUGA:Indonesia Lirik Migas Rusia untuk Amankan Energi Nasional
Nazi Jerman menyerah tanpa syarat kepada Uni Soviet pada 9 Mei 1945 dan diperingati sebagai Hari Kemenangan, menyusul jatuhnya Berlin ke tangan Tentara Merah. Tentu kemenangan gemilang tersebut menjadi jalan kemenangan sekutu secara menyeluruh pada Perang Dunia II.
Kekalahan fasisme di Eropa yang diperjuangkan oleh Uni Soviet mempercepat jatuhnya kekuasaan militer Jepang.
Namun, Jepang mau kalah dengan membuat propaganda seolah-olah mereka sebagai ”pembebas” bangsa-bangsa Asia yang sudah lama dijajah ”orang kulit putih” dengan mengajukan rencana pembentukan ”Wilayah Asia Timur yang Agung bagi Saling Kemakmuran” Jepang dan bangsa-bangsa Asia Tenggara di bawah slogan seperti ”Jepang Pelita Asia”, ”Jepang Pemimpin Asia”, dan ”Jepang Pelindung Asia”.
Setelah menghancurkan pasukan Hitler pada Mei, pada 9 Agustus 1945 Uni Soviet masuk ke medan perang di front Timur Jauh dan menghancurkan pasukan pilihan Tentara Kwantung milik Jepang. Itu menjadi kontribusi penting bagi upaya membebaskan bangsa-bangsa di Asia dari pendudukan pasukan militer Jepang.
Keunggulan besar sekutu atas Jepang pada musim panas 1945 menentukan kekalahannya. Pada hari berikutnya setelah Uni Soviet memasuki perang melawan fasisme Jepang, 10 Agustus, Menteri Luar Negeri Jepang Togo menghubungi utusan Soviet di Tokyo, Y. Malik, dengan pernyataan bahwa Jepang siap menerima syarat-syarat Deklarasi Potsdam yang menyerukan penyerahan tanpa syarat.
Pada 14 Agustus 1945, Kaisar Jepang Hirohito menyatakan penyerahan Jepang. Pernyataan dari kaisar Jepang itu menciptakan situasi yang unik di Asia Tenggara: negara-negara pendudukan mengakui kekalahan mereka, sedangkan para penjajah belum sempat kembali.
Pemimpin-pemimpin nasionalis Indonesia menafsirkan situasi tersebut sebagai kesempatan yang menguntungkan untuk membebaskan diri dari ketergantungan kolonial dan memperoleh kedaulatan.
Pada 17 Agustus 1945, diumumkan kemerdekaan Indonesia secara resmi. Pemimpin utama gerakan pembebasan nasional, Soekarno, membacakan deklarasi kemerdekaan dan pada hari berikutnya diadopsi konstitusi yang secara hukum mengukuhkan berdirinya Republik Indonesia yang berdaulat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: