Menunggu Godot di Tengah Kobaran Api

Menunggu Godot di Tengah Kobaran Api

ILUSTRASI Menunggu Godot di Tengah Kobaran Api.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -

DALAM lakon Waiting for Godot karya Samuel Beckett, penantian menjadi absurditas yang justru dipertahankan karena memberikan ilusi harapan. Dunia hari ini seperti menghidupkan kembali panggung itu –bukan dalam bentuk teater, melainkan dalam lanskap geopolitik yang dipenuhi ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel

Di tengah kobaran konflik yang kian terbuka, dunia seolah menunggu satu hal yang sama: perdamaian abadi atau dalam istilah klasik Perpetual Peace: A Philosophical Sketch dari Immanuel Kant –sebuah visi tentang tatanan global yang stabil dan bebas perang. Namun, seperti Godot, ia terus dijanjikan tanpa pernah benar-benar hadir.

Yang membuat penantian itu makin mendesak adalah faktor ekonomi global yang kini tidak bisa dipisahkan dari konflik tersebut, terutama terkait Selat Hormuz. Jalur sempit itu bukan sekadar titik geografis, melainkan urat nadi energi dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak global melewati perairan tersebut setiap hari. 

Setiap ancaman, bahkan sekadar retorika tentang penutupan atau gangguan distribusi, langsung mengguncang pasar energi global. Harga minyak melonjak, inflasi merambat, dan dampaknya terasa hingga ke dapur rumah tangga di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.

Dalam konteks ini, konflik Iran-AS+Israel tidak lagi bisa dilihat sebagai persoalan regional. Ia telah berubah menjadi krisis global yang efek dominonya menjalar ke ekonomi, politik, bahkan stabilitas sosial di negara-negara yang sama sekali tidak terlibat langsung. 

Kenaikan harga energi berarti kenaikan biaya produksi, transportasi, dan kebutuhan pokok. Dalam banyak kasus, itu berujung pada tekanan sosial yang lebih luas –dari penurunan daya beli hingga potensi instabilitas politik domestik.

Namun, di tengah tekanan global tersebut, paradoksnya tetap sama: perdamaian tetap sulit terwujud bukan karena tidak diinginkan, tetapi karena tidak cukup ”menguntungkan” bagi para aktor utama. 

Iran melihat ketegangan sebagai alat tawar strategis, terutama dalam menghadapi sanksi dan negosiasi nuklir. Israel memandang ancaman Iran sebagai sesuatu yang tidak bisa dinegosiasikan secara setengah hati. 

Amerika Serikat, dengan seluruh beban hegemoninya, tidak bisa begitu saja mundur tanpa kehilangan kredibilitas global. Dalam konfigurasi seperti itu, konflik menjadi semacam ”keseimbangan yang tidak stabil” –berbahaya, tetapi tetap dipertahankan.

Di sinilah gagasan tentang perpetual peace menjadi terasa makin utopis. Immanuel Kant membayangkan dunia di mana negara-negara bertindak rasional untuk menghindari perang karena biaya yang terlalu besar. 

Namun, realitas hari ini menunjukkan bahwa rasionalitas tidak selalu mengarah pada perdamaian. Dalam banyak kasus, rasionalitas justru membenarkan konflik –selama konflik tersebut masih memberikan keuntungan strategis atau setidaknya tidak terlalu merugikan secara langsung.

Dampaknya, dunia terjebak dalam kondisi liminal: tidak sepenuhnya perang, tetapi juga jauh dari damai. Ketegangan dijaga pada level tertentu –cukup tinggi untuk mempertahankan tekanan, tetapi tidak cukup ekstrem untuk memicu kehancuran total. 

Masalahnya, dalam sistem yang kompleks seperti itu, garis antara ”terkendali” dan ”tak terkendali” sangat tipis. Satu kesalahan kalkulasi di Selat Hormuz, satu serangan balasan yang tidak terukur, dapat mengubah dinamika secara drastis.

Jika ditarik ke belakang, sejarah memberikan peringatan yang tidak bisa diabaikan. Krisis minyak 1973 akibat embargo negara-negara Arab menunjukkan bagaimana konflik politik dapat langsung mengubah lanskap ekonomi global: harga energi melonjak tajam dan memicu resesi di banyak negara industri. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: