Pengakuan Penjual Balon Pembunuh Ibu Mertua di Mojokerto: Hujan-Panas Jadi Badut

Pengakuan Penjual Balon Pembunuh Ibu Mertua di Mojokerto: Hujan-Panas Jadi Badut

ILUSTRASI Pengakuan Penjual Balon Pembunuh Ibu Mertua di Mojokerto: Hujan-Panas Jadi Badut.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -

Kesaksian penjual balon di Mojokerto, Satuan, 40, tersangka pembunuh ibu mertua Siti Arofah, 53, kepada polisi, begini: penghasilannya kecil. Yakni, Rp4 sampai Rp25 ribu per hari. Itu penyebab cekcok dengan istri, berakhir pembunuhan.

PENGHASILAN kecil, kata Satuan, yang uangnya ia serahkan kepada istri, membuat istri bingung. Sebab, itu tidak mencukupi kebutuhan hidup keluarga dengan dua anak.

Akhirnya si istri, Yuni, 35, bekerja di tempat sablon di kawasan Brangkal, Mojokerto. Penghasilan Yuni jauh lebih tinggi jika dibandingkan Satuan. Lalu, Yuni membanding-bandingkan penghasilan mereka. 

Itulah problem awal kasus tersebut. Dari situ terus bergulir, jadi KDRT, Satuan sering menganiaya Yuni. Ibunda Yuni, Siti Arofah, yang tinggal di dekat rumah keluarga Satuan, membela Yuni. Membikin Satuan tambah emosi. Arofah pun dibunuh Satuan. Yuni juga dibacok.

BACA JUGA:Badut Penjual Balon di Mojokerto Bunuh Ibu Mertua: Motif Sulit Bayar-Bayar

BACA JUGA:Berbaju Badut, Maling Korban Cari Korban Keliling Ngawi

Pengakuan Satuan itu ia katakan di hadapan penyidik Satreskrim Polres Mojokerto, Jumat, 8 Mei 2026. Satuan bersaksi dengan derai air mata. Entah, ia benar-benar sedih atau itu cuma sandiwara. Supaya hukumannya ringan.

Satuan mengaku, ia tidak dihargai Yuni maupun Arofah. Penyebabnya itu tadi, penghasilan Satuan paling banter Rp25 ribu per hari. Yuni tidak menghargai. Sebab, penghasilan segitu tak cukup menafkahi keluarga. Akibatnya, utang sana-sini dan tak terbayar.

Satuan ke polisi: ”Dulu dia (Yuni, Red) pernah izin mau terjun ke gitu (maksudnya jadi pelacur, Red), saya marah. Terus, saya dianggap apa? Seperti enggak ada pekerjaan lainnya saja. Pokoknya, dia maunya yang instan.”

Kemudian, Yuni berjualan jajan di depan rumah mereka di Dusun Sumbertempur RT02/01, Desa Sumbergirang, Puri, Mojokerto. Itu rumah kontrakan, sangat sederhana, di area padat penduduk. Ternyata dagangan tidak laku. Mau apa lagi.

BACA JUGA:Kisah Suami Bunuh Istri di Tanjungpinang: Dulu, Bunuh Selingkuhan

BACA JUGA:Suami Bunuh Istri di Bogor, Ditonton Cucu: Diduga Motif Utang

Mujur, kemudian Yuni dapat pekerjaan di tempat sablon. Penghasilan lebih besar daripada Satuan. Kalau Satuan berjualan balon tiap hari tanpa libur, penghasilan maksimal Rp750 ribu per bulan. Gaji Yuni lebih besar daripada itu.

Akibatnya, Satuan merasa diremehkan Yuni. Ia juga merasa diremehkan ibu mertuanya. Siti Arofah pasti membela anaknyi, Yuni. Satuan jadi tambah emosi. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: