Angka Ekonomi Cantik, tetapi Hidup Masih Sulit

Angka Ekonomi Cantik, tetapi Hidup Masih Sulit

ILUSTRASI Angka Cantik, Hidup Masih Sulit.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -

PEMERINTAH, melalui Badan Pusat Statistik (BPS), baru saja mengumumkan bahwa ekonomi Indonesia tumbuh impresif sebesar 5,61 persen pada triwulan I-2026.  Kinerja yang mentereng itu diklaim sebagai yang tertinggi selama kurun lima tahun terakhir. Seharusnya, itu adalah kabar menggembirakan. Namun, nyatanya malah justru memicu perdebatan: antara percaya dan tidak. 

Barangkali bagi orang awam, ini bukan tentang soal validitas angka statistik. Mereka mempertanyakan dalam bahasa yang lebih sederhana, bagaimana angka yang cantik itu bisa muncul di tengah kehidupan yang dirasakannya makin sulit? 

Pertumbuhan yang Belum Dirasakan

Data pertumbuhan itu mungkin memang sudah benar secara statistik, tetapi terasa ”janggal” di dompet masyarakat. 

Apalagi, BPS pada saat yang sama juga melaporkan bahwa pertumbuhan triwulanan masih minus 0,77 persen –yang artinya aktivitas ekonomi justru mengalami kontraksi jika dibandingkan kuartal sebelumnya– ekspor hanya naik 0,90 persen, impor melonjak 7,18 persen, dan data pasar kerja menunjukkan kualitas pekerjaan belum banyak membaik: pekerja informal masih sekitar 59 persen dari total pekerja, sedangkan pekerja paruh waktu dan setengah pengangguran masih sepertiga tenaga kerja. 

BACA JUGA:Ekonomi Pasar Pancasila dan Harapan Kesejahteraan Bangsa

BACA JUGA:Potensi Ekonomi Melimpah Choke Point: Bisakah Selat Malaka Dikenai ”Toll-Gate Fee”?

Jadi, masalahnya bukan semata-mata ada anggapan bahwa ”angka resmi salah”, tetapi angka makro itu bergerak lebih cepat dan lebih agregat daripada realitas kehidupan rumah tangga, buruh, dan pelaku usaha kecil. 

Terkait hal itu, beberapa lembaga internasional seperti World Bank, International Monetary Fund, dan Asian Development Bank sejak akhir 2025 hingga awal 2026 telah memberikan penilaian yang senada: pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tetap tangguh, tetapi tantangan pasar kerja, kualitas pertumbuhan, dan risiko global juga masih besar. 

Dalam bahasa sederhana, mesin ekonomi nasional memang menyala, tetapi tidak semua sabuk penggeraknya tersambung hingga ke kantong pendapatan riil rumah tangga. 

Pertumbuhan impresif pada Q1-2026 itu tidak seluruhnya ”milik rakyat banyak”. Pengeluaran konsumsi rumah tangga memang tumbuh 5,52 persen dan PMTB 5,96 persen, tetapi konsumsi pemerintah melonjak 21,81 persen. 

BACA JUGA:Ekonomi Sibuk vs Ekonomi Kuat: Mengapa 9,78 Juta UMKM Jatim Belum Melompat?

BACA JUGA:Ujian Kedaulatan Ekonomi RI di Tengah Krisis Energi Global: Gagalnya Dialog Iran-AS

Sebaliknya, ekspor hanya tumbuh 0,90 persen, sedangkan impor naik 7,18 persen. Dalam bahasa warung kopi: ada uang beredar, ada proyek berjalan, ada perjalanan mudik dan belanja hari raya, tetapi sebagian dorongannya datang dari APBN, ditambah sebagian permintaannya bocor ke barang impor. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: