Potensi Ekonomi Melimpah Choke Point: Bisakah Selat Malaka Dikenai ”Toll-Gate Fee”?

Potensi Ekonomi Melimpah Choke Point: Bisakah Selat Malaka Dikenai ”Toll-Gate Fee”?

ILUSTRASI Potensi Ekonomi Melimpah Choke Point: Bisakah Selat Malaka Dikenai ”Toll-Gate Fee”?-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -

TEBERSIT gagasan yang bagi sebagian orang mungkin terdengar konyol. Yakni, Indonesia bisa ”kaya mendadak” dengan memajaki lalu lintas kapal di Selat Malaka. Itu terdengar sangat menggiurkan dan menggoda. 

Dalam imajinasi publik, logikanya sederhana, jika sepertiga perdagangan dunia melewati satu jalur sempit di depan ”halaman rumah” kita, mengapa tidak menarik tarif seperti jalan tol? 

Namun, seperti banyak ide ekonomi yang tampak intuitif, realitasnya jauh lebih kompleks, bahkan berpotensi kontraproduktif jika dibaca tanpa kacamata hukum internasional dan geopolitik.

Selat Malaka bukan sekadar jalur laut biasa. Ia adalah choke point global, jalur sempit yang menentukan arus perdagangan dunia. 

Nilai perdagangan yang melintas mencapai sekitar 3,5 triliun dolar AS per tahun, setara sepertiga PDB global, dan hampir 29 persen dari distribusi minyak dunia melewati selat itu. Secara kuantitatif, potensi ekonomi dari arus tersebut memang luar biasa besar.

BACA JUGA:Tak Hanya Selat Hormuz, Ini 5 Jalur Minyak Paling Krusial Dunia, Ada Selat Malaka!

Sebagai perbandingan, dari beberapa choke point, tiga yang menonjol dan memiliki signifikansi tinggi merupakan jalur lalu lintas laut yang bisa mendatangkan potensi ekonomi yang melimpah. 

Terusan Suez merupakan jalur pengiriman kontainer sebesar 12 persen dari perdagangan global dan jalur suplai energi dunia sebesar 20 persen. 

Pada April 2025, otoritas Terusan Suez, yang mengelola jalur air tersebut, menyatakan bahwa terusan tersebut menghasilkan pendapatan tahunan sebesar USD4 miliar pada 2024, turun dari rekor tertinggi sepanjang sejarah sebesar USD10,3 miliar pada 2023.

Kemudian, Terusan Panama, sebuah jalur perairan yang berpusat di Panama, digunakan sebagai lintasan kapal barang yang tiap tahun menangguk keuntungan Rp47–50 triliun. Wilayah itu dianggap sebagai salah satu titik utama terpenting dalam jaringan maritim global, bersama dengan Terusan Suez, Selat Hormuz, dan Selat Malaka.

Terakhir, Selat Bab el-Mandeb yang berada di Yaman merupakan jalur yang menghubungkan Asia-Eropa dengan besaran volume 8,7 persen melalui perdagangan laut. Dengan melihat besarnya potensi yang bisa dieksplorasi, dapat ditarik gambaran bahwa Selat Malaka sangat penting bagi jalur pengapalan barang. 

Yang membedakan dari yang lain, Selat Hormuz menentukan apakah ekonomi dunia memiliki energi untuk beroperasi. Tanpa energi, rantai pasok global berhenti bahkan sebelum distribusi barang berjalan. 

Namun, di sinilah letak batasnya: hukum laut internasional, khususnya rezim transit passage dalam UNCLOS, tidak memberikan ruang bagi negara pantai untuk memungut ”pajak lintasan” atas kapal yang hanya melintas. 

Kapal-kapal memiliki hak lintas damai dan transit yang tidak boleh dihambat secara diskriminatif. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: