DPR Ingatkan Pemerintah Jangan Remehkan Ancaman Hantavirus

DPR Ingatkan Pemerintah Jangan Remehkan Ancaman Hantavirus

Anggota Komisi IX Edy Wuryanto menilai negara masih lamban dalam menindaklanjuti aduan THR -DPR RI-

HARIAN DISWAY - Anggota Komisi IX DPR RI Edy Wuryanto meminta pemerintah meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman hantavirus menyusul wabah strain Andes di kapal pesiar MV Hondius

Edy menegaskan bahwa virus ini merupakan ancaman nyata karena Indonesia telah mencatat 23 kasus jenis Seoul Virus dalam tiga tahun terakhir dengan tiga korban jiwa. 

“Ini menunjukkan bahwa hantavirus bukan sekedar ancaman teoritis. Virusnya sudah ada di Indonesia dan kasusnya nyata," kata Edy.

Edi juga menyoroti risiko besar di Indonesia yang dipicu oleh kepadatan penduduk, sanitasi lingkungan yang buruk, dan tingginya populasi tikus di kawasan pemukiman.

BACA JUGA: Waspada Hantavirus di Indonesia: Kenali Gejala, Cara Penularan, dan Pencegahannya

BACA JUGA: IDAI Tegaskan Virus Hanta Bukan Baru, Penularan Bisa Dicegah dengan PHBS dan Menjaga Kebersihan Lingkungan

Ia menyebut hantavirus sebagai silent threat karena gejalanya seringkali menyerupai demam berdarah atau leptospirosis sehingga sulit terdeteksi. 

“Peristiwa di kapal MV Hondius harus menjadi alarm bagi seluruh negara, termasuk Indonesia. Kita tidak boleh menganggap hantavirus sebagai ancaman jauh tau penyakit langka yang tidak relevan bagi Indonesia.” kata Edy.

Edi mendorong implementasi pendekatan One Health yang mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan. 

Ia meminta agar pemerintah memperluas surveilans  penyakit demam akut, meningkatkan kapasitas laboratorium PCR, serta memperkuat pengendalian populasi tikus. 

BACA JUGA: Tenang, Ahli Sebut Hantavirus Bukan Sesuatu yang Baru di Indonesia

BACA JUGA: Evakuasi Penumpang Kapal yang Terdampak Virus Hanta Segera Dimulai

“Pencegahan hantavirus tidak cukup hanya mengandalkan layanan rumah sakit. Ini menyangkut lingkungan hidup sehari-hari masyarakat,” tambahnya

Edy menekankan bahwa pembersihan area yang terkontaminasi kotoran tikus harus dilakukan dengan perlindungan diri yang ketat. 

“Kita tidak boleh menunggu sampai terjadi lonjakan kasus besar baru kemudian bergerak. Pencegahan jauh lebih murah dan jauh lebih penting dibandingkan penanganan ketika situasi sudah memburuk,” kata Edy.

Selain itu, ia juga meminta edukasi publik mengenai kebersihan lingkungan dan penggunaan masker saat membersihkan gudang dan ruangan lainnya.

BACA JUGA: Hantavirus is Not New, Prevention Possible Through Clean Living: IDAI

BACA JUGA: 2 Warga Singapura Penumpang MV Hondius Negatif Hantavirus

“Masih banyak masyarakat yang membersihkan gudang, ruko kosong, atau area yang penuh kotoran tikus tanpa perlindungan dapat menjadi jalur penularan. Ini yang harus diedukasi secara serius,” tegasnya.(*)

*) Peserta Magang dari Universitas Trunojoyo Madura. 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: