Galau Arsenal

Galau Arsenal

ARIF AFANDI di markas Arsenal, Emirates Stadium, London.-Arif Afandi untuk Harian Disway-

Di sisi lain, Manchester City di bawah Pep Guardiola datang sebagai masa depan baru sepak bola modern. Mesin kemenangan yang dibangun dengan presisi industri. Memberi warna baru ketatnya persaingan antarklub di Inggris setiap musim kompetisi.

Guardiola mengubah sepak bola menjadi laboratorium ide. Bahkan, bagi banyak penggemar Arsenal, termasuk saya, City menawarkan bentuk kekaguman lain. Apa itu? Sepak bola yang nyaris sempurna secara taktik.

Itu bikin galau saya setiap saat. Mencintai Arsenal karena sejarah emosionalnya. Tapi, mengagumi City karena kecerdasannya. Dua cinta berbeda watak. Arsenal adalah nostalgia dan identitas. City adalah kekaguman intelektual si bola sepak.

Kini Mikel Arteta sedang melakukan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar trofi juara. Ia sedang mempertemukan dua dunia itu. Arteta seperti anak yang lahir dari dua peradaban sepak bola. 

Ia mewarisi romantisme Wengerian. Tapi, juga disiplin struktural Guardiola dari City. Dalam tim Arsenal sekarang, kita melihat keberanian menyerang yang dulu membuat Highbury dicintai. Tapi, juga organisasi permainan modern yang dingin dan efektif.

Declan Rice menjadi jangkar yang kokoh sekaligus elegan. Martin Odegaard bermain seperti konduktor orkestra Skandinavia yang terlalu cerdas untuk sepak bola. Bukayo Saka memberikan harapan generasi baru: sosok muda, santun, tetapi mematikan. 

Ditambah lagi pertahanan The Gunners kini tak rapuh seperti di masa lalu. Semuanya itu menjadikan mimpi yang lama terasa utopis mulai tampak realistis. Double winner Liga Inggris dan Liga Champions tiba-tiba ada di depan mata.

Bila betul-betul double winner itu jadi kenyataan, ini bukan sekadar prestasi bagi Arsenal. Tapi, sejarah baru. Kenapa? Sebab, Arsenal belum pernah menjuarai Liga Champions. Belum pernah mencetakkan diri sebagai digdaya Eropa.

Klub yang berbasis di London Utara itu selalu memiliki ironi aneh. Ia dicintai dunia, tetapi belum pernah duduk di takhta Eropa. Jika tahun ini bisa merengkuhnya, Arteta bukan hanya pelatih sukses. Ia akan menjadi arsitek peradaban baru Arsenal.

Bisa disimpulkan bahwa generasi Wenger memberi Arsenal identitas. Generasi Arteta bisa jadi memberi mereka supremasi. Mantan asisten Guardiola di City itu bisa menjadikan kebanggaan baru bagi warga Inggris. Khususnya pelanggan tribun Emirates Stadium. 

Saat menonton drama mendebarkan laga Arsenal lawan West Ham diam-diam saya merasa bersalah. Merasa menyesal. Mengapa ketika berkunjung ke London tahun 2023, saya hanya menonton kemegahan home base Arsenal dari pelatarannya.

Padahal, saat itu saya sempat menonton Manchester City melawan Liverpool. Atmosfernya luar biasa. Stadion Etihad penuh energi modern sepak bola Inggris: cepat, keras, presisi. Tetapi, entah mengapa, saya tidak menyempatkan diri masuk ke Emirates Stadium?

Padahal, saya tahu, Arsenal bukan sekadar klub yang saya suka. Ia bagian dari lanskap emosional masa muda. Ada cinta jarak jauh di sana. Ada malam-malam bergadang. Ada frustrasi. Ada harapan yang berkali-kali patah.

Penyesalan itu tumbuh lagi ketika Arsenal berdiri di ambang sejarah. Saya membayangkan duduk di tribun Emirates. Melihat rumput hijau London Utara. Mendengar lagu North London Forever dinyanyikan. Menyadari stadion itu bukan cuma arena olahraga. Tapi, juga museum tentang kesetiaan.

Pada akhirnya, sepak bola bukan tentang memilih siapa yang paling kuat. Tetapi, tentang klub mana yang diam-diam ikut membentuk diri kita. Sebab itu, setiap kemenangan Arsenal musim ini terasa begitu emosional bagi banyak orang. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: