Paradoks Media Sosial: Sering Posting, Tetapi Kesepian

Paradoks Media Sosial: Sering Posting, Tetapi Kesepian

Makin Rajin Posting di Sosmed Bukti Nyata Anda Mengemis Perhatian-ChatGPT-ChatGPT

Akibatnya, orang lain hanya mengenal “versi yang sudah dikurasi”. Dan ketika tidak ada yang benar-benar mengenal kita apa adanya, rasa sepi itu akan tetap ada, bahkan ketika notifikasi tidak pernah berhenti.

Kebiasaan ini juga menciptakan ilusi kedekatan. Kita merasa terhubung hanya karena kita tahu kehidupan orang lain. Kita merasa dekat hanya karena sering melihat pembaruan dari mereka. Padahal, mengetahui bukan berarti mengenal. Melihat bukan berarti memahami. Ilusi ini membuat kita merasa “cukup terhubung”, padahal sebenarnya kita sedang kekurangan relasi yang bermakna.

Ironisnya, pada saat yang sama, banyak orang justru semakin sulit untuk benar-benar membuka diri. Bukan karena tidak ingin, tetapi karena terbiasa menyampaikan diri dalam bentuk yang singkat, cepat, dan sudah dikurasi agar selalu terlihat menyenangkan.

Kita menjadi lebih nyaman berbagi ke banyak orang secara dangkal, daripada ke satu orang secara mendalam. Dan di situlah kesepian menemukan tempatnya.

Kesepian hari ini tidak selalu datang dari ketiadaan orang. Ia justru hadir di tengah keramaian. Di antara story yang terus berjalan. Di antara pesan yang terus berdatangan. Di antara interaksi yang tidak pernah benar-benar menyentuh.

Mungkin yang perlu kita tanyakan bukan lagi seberapa sering kita terlihat, tetapi seberapa dalam kita terhubung. Karena pada akhirnya, manusia tidak hidup dari perhatian.

Manusia hidup dari keterhubungan yang nyata. Dan tanpa keterhubungan yang nyata, seramai apa pun hidup kita di layar, tetap akan terasa sepi di dalam.

*) Dosen Fakultas Psikologi Universitas 45 Surabaya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: