Paradoks Media Sosial: Sering Posting, Tetapi Kesepian

Paradoks Media Sosial: Sering Posting, Tetapi Kesepian

Makin Rajin Posting di Sosmed Bukti Nyata Anda Mengemis Perhatian-ChatGPT-ChatGPT

Kita hidup di era di mana hidup seseorang bisa disaksikan oleh ratusan, bahkan ribuan orang, setiap hari. Story dibagikan, aktivitas dipamerkan, momen-momen kecil diabadikan dan diunggah seketika di media sosial. Tidak pernah semudah ini untuk “terlihat”.

Sangat mudah terlihat, tetapi tidak dikenal. Namun, di balik itu semua, muncul pertanyaan yang jarang kita ajukan dengan jujur: Apakah terlihat berarti benar-benar terhubung?

Banyak orang hari ini memiliki audiens, tetapi tidak memiliki kedekatan secara personal. Banyak yang diketahui, tetapi tidak benar-benar dipahami. Kita membagikan potongan-potongan hidup, tapi jarang membuka diri sepenuhnya. Fenomena ini bukan sekadar soal media sosial. Ini adalah perubahan dalam cara manusia membangun relasi.

Dalam psikologi, kedekatan tidak muncul begitu saja. Ia terbentuk melalui proses yang disebut self-disclosure, yaitu konsep yang menjelaskan bahwa hubungan yang intim berkembang ketika seseorang secara bertahap membuka diri.

Bukan hanya fakta, tetapi juga perasaan, ketakutan, dan pengalaman yang lebih mendalam. Masalahnya, di ruang digital hari ini, yang sering terjadi justru sebaliknya. Kita membuka diri kepada banyak orang, tapi hanya di permukaan.

BACA JUGA:Anatomi Psikologi Hari Lansia: Ketika Didengarkan Adalah Obat dan Dilibatkan Adalah Vitamin

BACA JUGA:Membaca Psikologi Politik di Balik Manuver Global Trump

Dulu, kedekatan dibangun dari percakapan yang berlangsung lama. Dari kehadiran yang utuh. Dari proses saling mengenal yang tidak instan. Hari ini, keterhubungan sering kali digantikan oleh interaksi cepat seperti like, view, reply singkat, atau sekadar emoji. Terlihat aktif, tapi dangkal. Ramai, tapi tidak intim.

Di titik inilah paradoks itu muncul: semakin sering kita membagikan diri, semakin besar kemungkinan kita merasa kosong.

Kesepian sendiri bukan sekadar “tidak punya teman”. Kesepian adalah persepsi bahwa hubungan yang kita miliki tidak memenuhi kebutuhan emosional kita. Artinya, seseorang bisa saja dikelilingi banyak orang, memiliki banyak interaksi, bahkan terlihat sangat sosial, namun tetap merasa sendiri. Dan itulah yang semakin sering terjadi hari ini.

Secara psikologis, manusia tidak hanya butuh dilihat. Kita butuh dipahami. Namun, yang terjadi di ruang digital sering kali hanya berhenti pada permukaan. Kita memilih apa yang ingin kita tampilkan, menyaring emosi, bahkan mengatur narasi tentang diri kita sendiri supaya terlihat baik-baik saja dan menarik bagi orang lain.

Fenomena ini sejalan dengan konsep the presentation of self yang menjelaskan bahwa individu cenderung “memainkan peran” dalam interaksi sosial. Menampilkan versi diri yang ingin dilihat orang lain. Di media sosial, panggung itu menjadi jauh lebih besar.

BACA JUGA:Syarat Baru Perpanjang SIM C 2026, Tetap Harus Tes Psikologi dan Kesehatan

BACA JUGA:Surabaya 'Menagih' Nafkah Ayah: Perspektif Psikologi Sanksi Adminduk Pasca-Cerai

Dan topeng itu menjadi jauh lebih rapi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: